INSPIRASI PAGI: Sindrom Bang Bento

“Khotbah soal moral,
omong keadilan
Sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu, lobying, dan upeti
Oh, jagonya…”

LIRIK lagu “Bento” karya musisi legendaris Virgiawan Listanto alias Iwan Fals, yang rilis pada 1989 silam, terasa masih relevan hingga saat ini.

Pertanyaannya, mengapa seorang penjahat yang melakukan korupsi, menyalahgunakan kekuasaan, melakukan politik kebohongan, menebar teror, serta berbagai tindakan penyimpangan moral, tidak merasa sebagai penjahat?

Fenomena ini sempat diulik oleh Sukidi Mulyadi, cendekiawan Muhammadiyah saat diwawancara oleh ahli ilmu politik, Eep Saefulloh Fatah.

“Seketika kebenaran dibunuh. Kita tidak punya standar moral lagi untuk menilai mana yang baik dan buruk, benar dan salah. Sehingga yang ada tinggal satu relativisme moral, di mana orang bisa melakukan kejahatan tanpa merasa dirinya bersalah sebagai seorang penjahat,” terangnya.

Menurut doktor bidang kajian Islam dari Universitas Harvard tersebut, orang semacam ini sudah jatuh atau hidup dalam —bahasa agamanya– “zulmani” atau kegelapan itu sendiri.

“Hati nurannya sudah tertutup rapat, dia tidak menerima pintu kebenaran. Yang ia praktekan adalah kegelapan demi kegelapan yang dikerjakan melalui praktek kejahatan yang banal itu sendiri,” jelas anak petani dari Sragen, Jawa Tengah ini.

Maka beruntunglah orang yang masih terjaga, yang selalu menghidupkan nurani, cahaya dalam dirinya.

“Orang yang memiliki nurani, pasti hatinya berdetak ketika melakukan kejahatan. Tapi kalau orang yang kehilangan nurani, ia terbiasa melakukan kejahatan tanpa merasa dirinya sebagai penjahat,” pungkasnya.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version