INSPIRASI PAGI: Soal The Winner Takes It All

SYAIR dalam lagu “The Winner Takes It All”, yang dipopulerkan oleh grup musik legendaris, ABBA, dikritik dengan sangat apik oleh PM Susbandono, seorang praktisi SDM di perusahaan migas nasional, dan penulis buku.

“Sepintas lagu itu memberi kesan semena-mena. Seolah terjadi penindasan oleh yang kuat kepada yang lemah. Semuanya menjadi milik sang pemenang. Yang kalah habis riwayatnya. Tak ada kompromi, tak boleh berbagi (kekuasaan),” tulisnya seperti yang kami ringkas dari laman sesawi .net.

ABBA menafikkan sharing power dalam bentuk apa pun. Sangat hitam-putih. Kompromi dianggap tabu, memasang pita perdamaian dianggap aib. Padahal sejak lahir, hidup selalu dihadapkan pada kompromi-kompromi yang tak berkesudahan, sampai mati.

Meski beda konteks, penulis menilai lagu yang didendangkan ABBA itu berlawanan dengan spirit “mecing”, sebuah tradisi anak-anak di Jawa saat bermain kelereng atau gambar (umbul).

Sang pemenang biasanya tetap merangkul, dengan membagi sebagian dari hasil kemenangannya kepada lawannya yang kalah. Peribahasa Jawa menguatkan tradisi ini. “Menang tanpa ngasorake”.

Menang, tanpa membuat yang kalah merasa disingkirkan. Ini adalah tradisi turun- temurun dari peradaban mulia para leluhur, agar perasaan kedua belah pihak menjadi secukupnya, tak terlalu senang dan tak terlalu sedih.

Mecing dapat mengurangi ketegangan antara sang pemenang dan si kalah. Yang menang dikurangi kegembiraannya, yang kalah dihibur kedukaannya. Permainan bisa terus berlangsung, dan kegembiraan (kedamaian, persatuan) kanak-kanak bisa ramai terdengar kembali.

“Hidup ideal adalah win-win, karena win-lose atau lose-win, cepat atau lambat, akan berubah menjadi lose-lose, karena ada dua kutub yang saling berhadapan (setiap saat bisa pecah konflik baru),” jelasnya.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version