INSPIRASI PAGI: Surat untuk Pilkada Damai

DALAM dunia tinju, sang atlet diperbolehkan melakukan psy-war: sesumbar dan melakukan serangan verbal alias trash talk kepada lawan sebelum tanding dimulai.

Berbicara besar dan mengumpat dipandang berguna untuk meruntuhkan mental lawan. Sehingga pola bertarungnya jadi kacau, dan kemenangan mudah diraih.

Strategi ini dimulai sang legenda Muhammad Ali, dan dilanjutkan setelahnya oleh Mike Tyson, Bernard Hopkins, Naseem Hameed, David Haye, dan seterusnya.

Namun pemilihan kepala daerah (pilkada) bukan ajang tinju. Jika strategi trash talk ini dipakai para kontestan, takutnya menjadi provokasi negatif, bahkan demagogi: menyesatkan demi kepentingan pribadi. Daerah dan rakyat taruhannya.

Yakinlah, hal keterlaluan semacam ini sama sekali tidak sebanding dengan keuntungan politis —kalau memang ada — yang akan diperoleh dan dinikmati.

Kalau pun berasil, paling berapa lama? 5 tahun? 10 tahun? Sementara perpecahan yang ditanggung bisa lebih dari itu, karena sulit direkat lagi. Pilkada datang dan pergi, tetapi daerah tetap abadi.

Jika memang (kontestan) hebat dan layak, silakan “perang” ide dan kemampuan Anda untuk menyejahterakan rakyat. Sekalian lengkapi dengan bukti. Jika bagus, rakyat pasti “membeli”. “Lu jual, gua borong sama gerobaknya!”

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Pegawai KKP di BP Batam, Dapat Pembinaan dan Pengembangan Kompetensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *