INSPIRASI RAMADAN: Belajar Sabar dengan Cerdas dari Haji Agus Salim (1)

Dilengkapi tulisan Republika FOTO: Haji Agus Salim semasa belia dengan gaya pakaian khas negeri Belanda.

HAJI AGUS SALIM, laki-laki asal Sumatra Barat lahir dengan nama asli Mashudul Haq (Pembela Kebenaran), dikenal memiliki pengetahuan luas.

Pengetahuan Salim yang luas dan penguasaannya pada banyak bahasa (pilygoth) membuatnya bisa menjawab perdebatan secara lugas.

Suatu ketika di Volksraad (parlemen Hindia Belanda) ada seorang Belanda mengejek Salim ketika menggunakan kata “Ekonomi”.

“Si bule” mengatakan bahwa itu bukan bahasa Melayu, jadi sebaiknya oleh Agus Salim kembali berbahasa Belanda, bahasa resmi Volksraad waktu itu.

Mendengar pertanyaan angota Volksraad yang asal Belanda itu, H Agus Salim lalu menyahut, “Saya akan ganti pemakaian kata ‘ekonomi’ kalau tuan juga sudah menyampaikan keluhan dengan menyebutkan ekonomi dengan bahasa Belanda,” jelasnya.

Tentu saja “si Belanda” itu terdiam mendengar jawaban balik H Agus Salim. Ini karena memang kata “ekonomi” memang berasal dari bahasa Perancis (setelah sebelumnya menyerap dari bahasa Yunani “oikonomia”).

Jadi kata “ekonomi” yang ada dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu sama menyerapnya dari bahasa asing, yakni Yunani.

Semua tahu betapa H Agus Salim tidak marah atas ejekan itu, serta membalikannya dengan argumen yang cerdas.

Ini juga menjadi bekal bagi para generasi Indonesia ketika hendak menjadi diplomat, politisi, atau pemimpin agar setiap kali berdebat harus memakai nalar dan argumentasi yang baik serta tak perlu marah-marah.

Di kemudian hari, nasihat diplomasi ala H Agus Salim diteruskan oleh mendiang mantan Menteri Luar Negeri dan mantan Wakil Presiden Adam Malik.

Nasihatnya, dalam debat dan diplomasi semua itu harus lentur dan dibicarakan baik-baik. Katanya: ‘’Itu semua bisa diatur!’’

Bagaimana menurut Anda?(ski)

Exit mobile version