SELAMA lima tahun belakangan ini, langgam berfilsafat pemikir muslim Jerman, Ahmad Milad Karimi, berusaha untuk menjembatani antara publik Jerman dan masyarakat muslim.
Berbeda dari pengkaji Islam atau orientalis, ia mampu mengaum lebih keras menyuarakan versi Islam yang menghargai aspek spiritualitas, intelektualitas, dan estetika.
Hebatnya lagi, Karimi melawan pandangan negatif atas Islam di Jerman di tengah iklim kemarahan gerakan sosial neo-fasis yang anti-Islam dan pengungsi, oleh neo-Nazi ala partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) dan Pegida.
Karimi lahir di Kabul pada 1979. Ia beserta keluarganya lari dari perang Afganistan pada 1992. Lebih dari setahun mereka ada di tangan penyelundup hingga berhasil menuju New Delhi dan Moskow, lalu tiba di Jerman.
Kini, ia aktif dalam jurnalisme berbagai bentuk: koran, radio, dan televisi. Aktivisme publiknya seiring dengan gairah akademiknya untuk menjadi referensi tentang suara Islam kontemporer, tidak bisa dibayangkan para pencinta supremasi kulit putih.
Imperatif intelektualnya menjadi salah satu contoh bagi generasi muda muslim di Jerman. Filsafatnya bisa melangit dan membumi. Mereka perlu memahami Islam dengan nalar yang tepat.
Karimi yang pernah disebut Der Spiegel pada 2009 sebagai “Wunderknabe” alias anak ajaib, paham betul bagaimana menyusun fondasi intelektual Islam yang klop dengan Jerman.
Karimi dan generasi muda muslim di Jerman bisa menjadi lokomotif transformasi masyarakat negeri itu untuk lebih menyatu dan tidak tersekat dan bisa “melupakan” tanah lahir moyang mereka.
Sebagaimana dalam film dokumenter buatan sutradara Jerman keturunan Turki, Fatih Akin, Denk ich an Deutschland – Wir haben vergessen zurückzukehren (2001): “Saya memikirkan Jerman, kami lupa untuk kembali.”
Bagaimana menurut Anda?(ski)
