INSPIRASI RAMADAN: Semangat Andalusia

TIAP tanggal 28 Februari, komunitas otonom Andalusia, Spanyol, merayakan Hari Andalusia. Perayaan yang menjadi hari libur umum ini, memperingati referendum pada tahun 1980 mengenai Statuta Otonomi Andalusia.

Melihat lagi ke 12 abad lalu, delapan abad lamanya –tercatat dari tahun 711 hingga 1492– Kerajaan Islam memimpin wilayah di semenanjung Iberia ini. Wilayahnya terentang jauh dari Lisbon (Portugal) hingga ke Zaragoza (Bosnia) dan berpusat di tiga kota, yaitu Cordoba, Granada, dan Sevilla.

Di bawah dinasti Umayyah, Andalusia (Al-Andalus) di selatan Spanyol itu, juga menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan yang melahirkan matematika (algebra) hingga ilmu kimia (alkali).

Andalusia disebut juga “Kota Cahaya”, nan menerangi benua Eropa yang kala itu masih di era kegelapan, serta menyebarkan ilmu pengetahuan, jantung peradaban, dan kemanusiaan. Jantung dari kesejahteraan akulturasi budaya. Bahkan denyutnya terasa hingga ke berbagai belahan dunia.

Dalam buku berjudul “The Myth of the Andalusian Paradise”, yang ditulis oleh Dario Fernandez-Morera, sang penulis mengungkapkan Al-Andalus memiliki tiga ciri utama yakni pluralisme etnis, toleransi agama dan sekularisme agama. Andalusia jantung akulturasi budaya dan agama.

Andalusia menjelma menjadi kawasan di mana semua orang bisa datang tanpa harus merasa berbeda atau asing. Agama dan budaya belasan abad lalu tak berusaha dibenturkan, tapi dijaga agar tetap berdampingan dengan damai.

Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
DIPERKAYA tulisan Agnes Savithri, di kanal Teknologi CNNIndonesia. com.

Exit mobile version