MUNGKIN kita sudah pernah mendengar lantunan “Salawat Qod Kafani” yang diciptakan ulama besar Yaman, Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad, yang salah satu liriknya berbunyi: Ana ‘abdun shôro fakhrî dlimna faqrî wadlthirôrî.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim, lebih dikenal sebagai Gus Baha, pernah mengupas maknanya. Ternyata sangat dalam.
Arti kalimat itu adalah, “Aku adalah hamba yang kebangganku adalah dalamnya kemiskinannku dan besarnya kebutuhanku (padaMu).” Gus Baha menjabarkan, “Saya ini hambaMu ya Allah, dan sebagai kebanggaan saya adalah, saya selalu butuh kepada Engkau.”
Menurut Gus Baha, ciri utama orang jelek adalah hidup itu seolah-olah tidak butuh campur tangan Allah.
“Misal kalau saya punya uang pasti senang, punya jabatan pasti bahagia, saya jadi ini dan itu pasti beres semua. Merasa bisa semua itu adalah sifatnya Fir’aun,” terangnya.
Maka itu, Gus Baha berpesan, jika jadi menteri, jadi gubernur, bahkan apapun jua, katakan bahwa: saya bukan siapa-siapa tanpa pertolongan Allah.
“Saya kyaipun tak bisa apa-apa tanpa pertolongan Allah. Saya orang baik pun dijamin tak mesti baik terus tanpa pertolongan Allah,” jelasnya.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






