PERISTIWA “goblok” yang viral baru-baru ini meninggalkan tanya, bagaimana mungkin ada orang yang di antaranya terdidik, membiarkan bahkan ikut menikmati “penindasan” oleh orang berkuasa kepada orang yang dianggap lemah (rendah)?
Mungkin saja orang-orang yang “ngakak” tersebut, terjebak perilaku konformisme, agar disukai, atau mendapatkan penerimaan dari kelompok atau lingkungan tertentu. Dalam hal ini ingin diterima orang yang berkuasa tadi.
Yang mengerikan adalah, jika perilaku tersebut mencerminkan suburnya sikap banality of evil (banalitas kejahatan), di kalangan masyarakat kita. Termasuk di kalangan elit dan terdidik.
“Banalitas kejahatan: Aku yang tak mengenal Diriku’ telaah Hannah Arendt perihal kekerasan oleh negara”, yang diterbitkan Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2004, menjelaskan bahwa berbagai tindakan kekerasan berawal dari ketidakmampuan berpikir dan menilai secara kritis.
Kedua hat tersebut terjadi akibat para pelaku terkondisikan menganggap kekerasan, termasuk kejahatan, sebagai hal yang bisa, wajar, atau lumrah.
Pelaku banalitas kejahatan tidak memiliki kesadaran dan mengalami ketumpulan nurani. la hanya bersandar pada otoritas di luar dirinya. Sehingga orang “normal” bisa berubah menjadi monster, seperti Adolf Eichmann, salah satu arsitek pemusnahan jutaan umat Yahudi yang reputasinya menyamai dokter Josef “The Angel of Death” Mengele.
Di Indonesia, mungkin banalitas kejahatan tidak terlalu gawat. Tetapi sulit dipungkiri bahwa pintu-pintu prakondisi ke arah sana telah terbuka lebar. Gejalanya tampak dalam kasus “goblok” yang viral saat ini.
Saatnya kita sadar. Tolak segala sistem yang mengondisikan untuk mengadaptasi kekerasan. Jangan apatis dan pragmatis, sehingga enggan memikul tanggung jawab sebagai warga negara. Supaya peradaban kita tidak runtuh, berganti sifat-sifat primitif dan menutup kemanusiaan.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
FOTO hanya pemanis narasi
INSPIRASI PAGI: Banality of Evil






