News  

INSPIRASI PAGI: Antara Mandela & Sukarno

SIAPAKAH tokoh yang membakar semangat Nelson Mandela dalam memperjuangkan kebebasan rakyat Afrika Selatan dari rezim apartheid? Dia adalah Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia Sukarno.

Ketika muda, Madiba -demikian nama klan Xhosa-nya- mempelajari dan terinspirasi pidato Bung Karno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, dan menggunakannya sebagai alat perjuangan.

Akibatnya, sebagian besar hidup Mandela ditindas melalui praktik rasisme brutal apartheid. Hal-hal berharga dihilangkan dari martabat dirinya-kebebasannya diberangus selama 27 tahun di penjara.

Setelah bebas dari penjara pada 11 Februari 1990, tepatnya pada 21 Oktober 1990, Mandela berkunjung untuk pertama kalinya ke Bandung. Dia sedih saat tidak melihat satu pun foto Soekarno di gedung KAA.

Bapak Bangsa Afrika Selatan ini tak tahu, saat itu Indonesia sedang dilanda de-Sukarnoisasi yang menggelapkan perjuangan luhur Sukarno dalam menggapai Indonesia Raya.

Seperti Mandela, Sukarno adalah pejuang yang terenggut kebebasannya selama lebih dari 13 tahun di penjara dan di pembuangan, menerima perlakuan yang tak berperikemanusiaan di pengujung hidupnya.

Bahkan pasca-wafatnya pada 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, masih saja memperoleh berbagai tuduhan pengkhianatan dalam pemberontakan G30S/PKI.

Baru setelah 57 tahun, dari 1967-2024, di era Presiden Prabowo, Tap MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 berkaitan dengan tuduhan pengkhianatan terhadap Sukarno, dicabut.

Dari kisah dua tokoh besar itu kita belajar, seperti ditulis Nelson Mandela dari penjara dalam “The Prison Letters of Nelson Mandela” (2018): Ingat, harapan adalah senjata yang ampuh. Bahkan ketika semua hal lainnya hilang.

Bagaimana menurut Anda? (ski)
____
Ref:
– Opini Kompas: Merawat Harapan di Tengah Banalitas Kejahatan, oleh Sukidi
– Beberapa sumber media lain

BACA JUGA:  Embun Pagi HMR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *