Referensi: NU Online, mengutip Syekh M Nawawi Banten, Madarijus Shu’ud ila Iktisa’il Burud, (Surabaya, Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun) halaman 33.
SEJAK kecil, kaum muslimin sudah diajar meneladani Nabi Musa Alaihissalam. Sebagai nabi dan rasul, ia tak hanya memiliki mukzijat, kemampuan spesial yang dianugerahi Sang Pencipta, tetapi juga kepemimpinan yang mumpuni.
Karakteristik kepemimpinan nabi yang disebut “titik temu” tiga agama, yakni Yudaisme, Kristen, dan Islam, itu ialah memiliki keberanian, kesabaran, ketabahan, kebijaksanaan, dan keteguhan.
Nabi yang masuk golongan Ulul Azmi (pemilik keteguhan hati) itu memiliki mukjizat, yakni tongkatnya. Yang paling terkenal, bisa membelah Laut Merah ketika Nabi Musa dan pengikutnya dikejar Firaun dan bala tentaranya.
Namun, ada sesuatu yang menarik dan tak banyak diketahui orang tentang tongkat Nabi Musa ini, yakni kisah tentang empat orang celaka yang namanya tertulis di tongkat tersebut, yakni:
• Setiap penguasa yang tidak adil dalam kekuasaannya tiada bedanya dengan Firaun.
• Setiap ulama dan ilmuan yang tidak mengamalkan ilmunya tiada bedanya dengan Iblis.
• Setiap orang kaya yang tidak bermanfaat hartanya (bagi orang lain dan dirinya) tiada bedanya dengan Qarun.
• Setiap orang miskin yang tidak sabar atas kemiskinannya tiada bedanya dengan “kalbun”.
Selalu ada konsekuensi besar bagi mereka yang tidak menjalani hidup dengan benar. Maka, bersikap adillah jika sedang berkuasa, yang terpelajar harus amanah, orang kaya harus dermawan, dan bersabarlah bagi yang miskin.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






