MENYALAKAN CAHAYA BATIN: Wali Kota Batam/Kepala BP Batam H Amsakar Achmad, menyerahkan santunan kepada 1000 anak yatim Kota Batam, di sela acara berbuka bersama di kediamannya, Perumahan KDA, Batamkota, Sabtu (8/3/2025). Lepaskan keterikatan duniawi dengan menyalakan cahaya batin.
IBNU ARABI (1165-1240), seorang filsuf dan sufi besar dari Andalusia (kini bagian selatan Spanyol), memiliki pandangan bahwa puasa Ramadan adalah pengalaman transendental yang menghapus sekat antara manusia dan Ilahi.
Dalam bukunya, “Futuhat al-Makkiyah”, sufi bernama lengkap Syaikh Akbar Muhyiddin Ibn Arabi, menjelaskan bahwa saat seseorang berpuasa dengan ikhlas, ia sedang menelusuri jalan menuju fana’—kehilangan diri dalam kehadiran Tuhan.
Ibnu Arabi berkata, “Ketika engkau berpuasa, engkau tidak sekadar menjauhi makanan, tetapi engkau sedang menanggalkan hijab (tabir) yang menghalangi antara dirimu dan Allah.”
Artinya, puasa yang sejati bukan hanya soal meninggalkan hal-hal fisik, tetapi juga meninggalkan ego, keakuan, dan kesibukan duniawi agar bisa “melihat” Tuhan lebih dekat.
Menurutnya, menikmati Ramadan berarti menggunakannya sebagai sarana untuk mengenali diri sendiri dan Tuhan.
Seseorang yang ingin mencapai ma’rifat harus menjadikan puasa sebagai latihan untuk melepaskan keterikatan duniawi dan menyalakan cahaya batin.
Seperti Ibnu Arabi, mari kita jadikan Ramadan sebagai momen untuk menanggalkan ego dan mendekat kepada Allah Subhanahu wa taala dengan penuh kesadaran. Jangan hanya berpuasa secara fisik, tetapi berpuasalah dengan hati dan pikiran.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
> Disarikan dari tulisan: Bambang Eko Mei






