SELAIN surat-surat RA Kartini yang dikumpulkan dan dibukukan dengan judul “Door Duisternis Tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang), tokoh pegerakan Indonesia yang surat-suratnya dibukukan. Dialah Sutan Sjahrir.
Surat-surat tersebut berisi ungkapan cinta Sjahrir, kepada kekasihnya, Maria Duchateau, seorang perempuan asal Belanda yang tak sengaja ditemui Sjahrir di negeri kincir angin saat mengenyam studi pada tahun 1931.
Hubungan asmara antara Sjahrir dengan Maria terjalin di saat pernikahannya dengan Sol Tas, suaminya, renggang. Keduanya kemudian menikah pada 10 April 1932 di sebuah masjid di Medan.
Rosihan Anwar dalam Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan 1909–1966, menulis, “Pernikahan itu hanya sebentar saja. Orang-orang Belanda kolonial tahun 1930-an tidak senang melihat inlander Sjahrir kawin dengan wanita bule. Maria dipaksa balik ke Negeri Belanda.”
Kesedihan Sjahrir yang harus berpisah dengan Maria membuatnya rajin mengirimkan surat berisi kalimat-kalimat manis untuk istrinya. Ia menulis surat romantis itu dari mulai ditahan di penjara Cipinang, hingga diasingkan ke Boven Digul.
“Apa yang tak kutemukan di dalam filsafat, aku temukan pada dirimu,” tulisnya. Namun, hantaman atas bahtera cinta mereka kian dahsyat. Hingga akhirnya, Sjahrir dan Maria memutuskan bercerai pada 12 Agustus 1948.
Maria kemudian menikah dengan adik Sjahrir, Soetan Sjahsyam. Sedangkan Sjahrir menikahi sekretarisnya, Siti Wahjunah Saleh, yang biasa disapa Poppy, pada 1951 di Kairo, Mesir.
Namun surat-surat Sjahrir kepada Maria yang ditulis mulai dari 1931-1940, tetap disimpan. Jumlahnya 287 pucuk dengan panjang antara 4-7 halaman.
Maria sempat berpikir untuk membakarnya. Namun, suaminya yang juga adik Sjahrir, Sutan Sjahsyam memutuskan membukukannya dengan judul “Indonesische Overpeinzingen”, diterbitkan di Amsterdam pada 1945 di bawah nama samaran.
Kisah Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia ini, layaknya sebuah cerita roman tentang cinta buta berujung tragedi. Apakah ini yang disebut bahwa cinta tak harus memiliki? Atau hanya sekadar menghibur diri untuk mengurangi rasa perih di hati?
Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
Referensi:
> Buku: Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia
> Buku: Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, oleh Rudolf Mrazek
> Buku: Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan 1909–1966, oleh Rosihan Anwar
> Beragam sumber media online
INSPIRASI PAGI: Mengeja Cinta Sjahrir






