TULISAN ini diilhami kisah pertemuan Amsakar Achmad dengan dua bocah pedagang kaki lima asal Pakistan, saat menunaikan ibadah Haji di Tanah Suci Mekkah, 4 Agustus 2019 silam.
Amsakar pun memborong dagangan mereka: 10 buah syal, dan sempat bercanda dengan kedua anak yang dia sebut sebagai “Petarung Kemuliaan Pakistan” itu. Sang anak pun dengan manja berbaring di pangkuan Amsakar.
“Terima kasih Nak, di celah negeri ini engkau memberikan pembelajaran yang sangat mengesankan tentang arti sebuah perjuangan,” ujarnya.
Nama negara Pakistan dibuat dari singkatan Punjabi, Afghani, Kashmiri, Sindhi, dan Balochistan. Agar mudah, ditambahkan huruf Indi antara huruf K dan S.
Akhiran “-stan” mengacu pada bahasa yang dipakai negara-negara itu, yakni Bahasa Proto-Indo-European. Hal ini seringkali dijumpai di negara-negara Asia Tengah yang berdekatan. Seperti Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, sampai Uzbekistan.
Muaranya dari orang Indo-Iranian kuno (yang dulu bermigrasi ke lembah Indus). Mereka menggunakan “-stan” untuk menyebut “tempat” atau “tempat dari”. Misal, Afghanistan, yang artinya negeri para Afghan. Kazakhstan, yang berarti negeri para Kazakh, dan seterusnya.
Di sisi lain, Pakistan agak berbeda, walaupun patokannya tetap sama. Pakistan berarti negeri orang suci dalam bahasa Urdu.
Pendiri Pakistan Quaid-i-Azam Muhammad Ali Jinnah, pernah berkata, “Kita harus memiliki sebuah negara, di mana kita bisa hidup dan bernapas sebagai orang-orang yang bebas dan di mana kita bisa berkembang sesuai dengan pandangan dan budaya kita sendiri, dan di mana prinsip-prinsip keadilan sosial Islam bisa diterapkan dengan bebas.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Sang Petarung Kemuliaan






