SAAT pembukaan Gebyar UMKM Kota Batam Tahun 2025, Wali Kota Batam H Amsakar Achmad, berpesan agar pelaku usaha terus mengasah mental entrepreneur, agar lahir pengusaha tangguh, kreatif, digital, dan siap bersaing di pasar regional maupun global.
Apa yang disampaikan Doktor Ilmu Pemerintahan ini, sangat relevan dengan situasi saat ini, kala dunia digital telah membuat model persaingan telah bergeser dari antar-perusahaan ke antar-ekosistem.
Istilah “ekosistem” ini dikenalkan ahli botani Inggris Arthur Tansley pada tahun 1930-an, untuk menggambarkan komunitas organisme yang berinteraksi satu sama lain dan lingkungannya: udara, air, tanah, dan lain-lain.
Agar dapat berkembang, organisme-organisme ini bersaing dan berkolaborasi satu sama lain memanfaatkan sumber daya yang tersedia, berevolusi bersama, dan bersama-sama beradaptasi terhadap gangguan eksternal.
Konsep ini kemudian diadopsi ahli strategi bisnis James Moore, dalam artikel Harvard Business Review tahun 1993 berjudul “Predators and Prey: A New Ecology of Competition”.
Dalam konteks memajukan UMKM di Kota Batam lain, konsep tersebut juga bisa diadopsi agar mampu menaklukkan iklim usaha saat ini, dengan membangun ekosistemnya masing-masing. Atau menjadi bagian dari ekosistem itu sendiri.
Misal UMKM yang bergerak di bidang makanan, membuat jaringan (mitra) dinamis organisasi seperti pemasok, distributor, dan lembaga pemerintah, yang berkolaborasi dan bersaing untuk menyediakan produk atau layanan.
Dengan struktur yang saling terhubung layaknya ekosistem biologis ini, maka fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi dari setiap UMKM dapat tumbuh di pasar yang terus berkembang, naik kelas, dan melompat lebih tinggi.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Ekosistem UMKM






