SEMAKIN tinggi pohon, semakin kencang juga angin berbisik. Namanya juga angin, kadang datangnya tak dapat diduga. Arahnya juga berubah-ubah. Merisik dan berisik.
Pohon-pohon tinggi sebenarnya sadar betul akan hal ini. Karena itu sebelum menjulang, mereka terlebih dulu menyiapkan akar yang kukuh hingga bertahun-tahun, supaya dapat menahan embusan angin. Filosofi ini bisa kita temukan pada bambu.
Manusia sebenarnya sama juga dengan pohon. Semakin tinggi kedudukan, akan semakin kencang “omon-omon” yang menerpanya.
Sama seperti angin tadi, informasi tersebut datang dalam bentuk yang tak terverifikasi. Kadang berupa data, fakta, hasutan atau adu domba, hingga hoaks atau fitnah yang keji.
Itulah pentingnya seorang pemimpin yang berakal, dengan referensi yang kuat. Sehingga mampu menjaga pikirannya, ibarat akar bambu yang kukuh menghujam Bumi. Jadinya dapat memilah informasi yang masuk, sehingga tak mudah goyah dan tumbang.
Gus Baha, pernah berkata mengutip Imam Syafi’i, “Akal sehat pasti dipaksa untuk menerima kebenaran. Sehingga tidak usah diomong-omongkan secara serius dan ngotot. Kebenaran itu mudah diterima!”
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI 5 RAMADAN: Bisikan Angin
