PADA 2015, orang-orang yang memiliki nama “Agus”, membentuk komunitas bernama Persaudaraan Agus-Agus Indonesia (AABI). Tak hanya tingkat pusat, mereka juga membentuk Dewan Agus Daerah di 22 provinsi di Indonesia.
Sebelumnya, orang-orang bernama Asep, mendirikan Paguyuban Asep Dunia (PAD). Karena memakai kata “Dunia” di nama organisasi, PAD juga memiliki anggotanya tersebar di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Amerika Serikat, Turki, Qatar, dan Perancis.
Selain Agus dan Asep, ada juga komunitas pemilik nama Bambang, Endng, Sri, dan Sugeng. Umumnya punya basis massa di Jawa Tengah.
Namun… “Apalah arti sebuah nama? Toh bunga mawar itu kalaupun diberi nama selain “mawar”, bau wanginya akan tetap sama?” tulis William Shakespeare, dalam drama romantis-tragedi mahakaryanya bertajuk “Romeo and Juliet”.
Pendapat Shakespeare ini dikritik Al Ries dan Jack Trout. Dalam bukunya Positioning: The Battle for Your Mind, mereka berpendapat:
“Jika bunga mawar dikasih nama selain “mawar”, wanginya tidak akan terasa sama. Hal ini karena dalam benak kita sudah muncul persepsi yang kuat, seperti apa “mawar” itu; baik secara visual maupun dari baunya.
Inilah yang disebut “brand”. Seperti kata Walter Landor, pendiri konsultan brand terkemuka, Landor, “Produk dibuat di pabrik, namun brand diciptakan dalam benak (konsumen).”
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Work and Power
