INSPIRASI PAGI: Dobrak Silo Mentality

WALI KOTA Batam DR Amsakar Achmad, meminta seluruh jajarannya menghentikan ego sektoral dan bekerja sebagai satu tim yang solid. “Tidak boleh ada yang merasa lebih penting dibandingkan yang lain!” tegasnya.

Dalam organisasi kerja besar, baik pemerintah maupun swasta, masalah yang disampaikan Doktor Ilmu Pemerintahan tersebut, kerap terjadi. Fenomena ini disebut sebagai silo mentality atau silo thinking (mentalitas sekat).

Istilah ini menggambarkan kecenderungan di dalam suatu organisasi di mana departemen, tim, atau individu terlihat solid dari luar, tetapi di dalamnya terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil (klik/kubu) yang saling menutup diri, seperti “silo” (gudang penyimpanan biji-bijian yang tertutup rapat).

Setiap “gudang” (departemen) punya stok sendiri, proses sendiri, dan tidak boleh berbagi dengan gudang lain. Akibatnya, informasi, data, sumber daya, dan tujuan tidak mengalir antar bagian. Ini menciptakan “dinding tak terlihat” antar tim.

Kondisi ini diperparah dengan munculnya politik kantor, struktur organisasi yang kaku, like and dislike, budaya kompetisi internal yang berlebihan, hingga lepemimpinan yang tidak mendorong kolaborasi.

Jika terus dibiarkan, bukan hanya menciptakan ilusi kebersamaan di atas ego kelompok masing-masing, juga menyebabkan layanan buruk, kegagalan target, bahkan kerusakan sistem (perusahaan bangkrut.

Maka sudah benar apa yang diingat Amsakar di atas. Ia memecah sekat untuk mendorong kolaborasi tim. Karena, organisasi yang sukses akan mampu menciptakan kolaborasi lintas batas dan budaya berbagi informasi yang sehat.

Bagaimana menurut Anda? (riza)

BACA JUGA:  KATA FOTO: Tiba di Sekupang, Ribuan Warga Sambut HMR-Rafiq & Teriakkan "Gubernur!"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *