CHEMISTRY: Tokoh Batam dan Kepulauan Riau, H Muhammad Rudi & Hj Marlin Agustina, bertemu tokoh nasional Surya Paloh, belum lama ini. Selalu berpikir positif, membuat para tokoh ini punya energi lebih untuk berpikir menyejahterakan masyarakat. Beda dengan yang selalu berpikir negatif: energinya terkuras untuk mendendam, nyinyir, dan playing victim.
HAMDAN Juhannis, Rektor UIN Alauddin Makassar, menjelaskan tentang hukum energi yang terjadi pada manusia.
Menurutnya, orang dengan energi lebih rendah cenderung meragukan, menyangkal, atau iri kepada yang lain. Energinya habis karena dikuras untuk hal-hal yang negatif.
Orang dengan energi yang setara cenderung menyukai, mengagumi, atau membenarkan yang lain. Di sini terjadi keseimbangan energi. Itulah yang disebut “chemistry”.
Sedangkan orang dengan energi yang lebih tinggi cenderung memahami, mendukung, atau menoleransi yang lain. Mereka memiliki stok energi berlebih. Sebab saat melepaskannya tidak membutuhkan energi besar.
Penjabarannya, energi adalah daya atau kekuatan untuk beraktivitas, berpikir, bertindak atau berprilaku. Energi pikir itulah yang membuat kita mampu berpikir positif tentang seseorang atau sesuatu.
Demikian juga dengan berpikir negatif, sangat membutuhkan energi yang lebih tinggi. Sebab, butuh lebih banyak lagi tenaga karena adanya konstalasi ketidakteraturan yang ingin diproduksi.
“Itulah mengapa mendendam membutuhkan energi yang lebih besar dibanding berdandan. Padahal dendam hanyalah aktivitas batin dibanding dandan yang membutuhkan ongkos dan gerakan fisik,” katanya.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
