INSPIRASI PAGI: Famous atau Notorious?

DI ERA media sosial saat ini, banyak kita lihat ada orang-orang yang tiba-tiba ingin sekali terkenal. Sayangnya ia tak bisa membedakan mana terkenal yang baik atau disebut “famous” dan terkenal dengan cara jelek, atau “notorious”.

Maka mulailah mereka beraksi dengan menjatuhkan orang-orang yang sudah berprestasi atau orang-orang yang sudah dipercaya dalam masyarakat.

Modalnya nyinyir sana-sini, memfitnah dan memecah belah, sembari melakukan panjat sosial. Harapannya bisa viral dan punya follower lebih banyak.

Dengan tindakannya itu mereka merasa sangat hebat, karena merasa sudah bisa mengevaluasi seorang pimpinan atau orang yang sudah dipercaya oleh masyarakat.

Aksinya kian heboh, karena banyak orang-orang sejenis memberi dukungan, dengan prinsip “musuh musuhku adalah temanku.”

Tapi ingat, setiap perbuatan ada konsekuensinya. Sebab banyak kasus semacam ini yang pelakunya terkena cancel culture (ditolak netizen/masyarakat), bahkan dijerat kasus hukum.

Mirisnya lagi orang-orang yang sering mengeluhkan orang lain ini, ternyata kelakuannya sering juga dikeluhkan masyarakat. Karena tak bisa berbuat apa-apa.

Apakah kritik tak boleh? Tentu boleh. Yang tak boleh itu nyinyir membabi buta, tanpa basis dan fakta yang jelas, apalagi sampai memfitnah dan menebar kebencian, dengan tujuan orang lain ikut membenci apa yang dia benci.

Lebih parah lagi sampai merasa diri paling hebat di alam semesta ini dan menganggap orang lain rendah. Tentu hal tersebut bukan kritik, apalagi sikap intelektual, melainkan gejala penyakit jiwa yang disebut narcissistic personality disorder. Segera berobat.

Bagaimana menurut Anda?(ski)

Exit mobile version