“ADA tiga hal yang dapat menghancurkan seorang laki-laki, yaitu harta, tahta dan wanita.” Diksi ini sama saja dengan meletakkan laki-laki sebagai mahluk naif dan pasif. Bahkan dinormalisasi sebagai korban.
Harta, tahta, dan wanita sejatinya bukanlah penghancur, melainkan titik lemah atau godaan utama bagi kaum lelaki. Jika dikelola dengan baik (sadar batas dan nilai-nilai iman), akan menjadi kekuatan dan kemuliaan. Jika tidak, bisa berujung pada keserakahan, perebutan kekuasaan, perselingkuhan, bahkan kehancuran batin.
Pertanyaannya, kenapa banyak yang tergoda? Karena banyak yang menjadikan tiga hal tersebut sebagai tujuan utama kejayaan duniawi.
Sebagaimana sebuah tujuan, maka perlu alat atau dorongan yang cukup kuat –untuk menggerakkan keputusan-keputusan besar– agar dapat tercapai. Dalam psikologi, dorongan itu disebut “ambisi”.
Ambisi bukan sekadar ingin sesuatu, melainkan jembatan yang kualitasnya ditentukan oleh nilai, kemampuan mengelola diri, dan keberanian mengakui batas. Ambisi erat kaitannya dengan ego dan mimpi (angan-angan unlimited).
Jadi jika ada laki-laki yang hancur akibat skandal yang melibatkan harta, tahta, dan wanita, ini karena ambisi, ego dan mimpinya tumbuh lebih cepat dari kemampuan mengelola batasan. Kesadaran dan rasionalitasnya hilang. Ibarat mainan remote control, kendali dirinya ditentukan orang lain atau lingkungan.
Bagaimana menurut Anda?
INSPIRASI PAGI: Harta, Tahta, Wa…






