INSPIRASI PAGI: Hikayat Kecantikan

STANDAR kecantikan manusia di tiap peradaban besar, berbeda, unik dan berubah seiring zaman. Setiap peradaban memiliki definisi cantiknya sendiri — dan semuanya meninggalkan jejak sejarah yang menakjubkan.

Di Mesir Kuno, 3000 tahun sebelum Masehi, baik pria maupun wanita menghias mata mereka dengan garis hitam kohol yang memanjang hingga ke pelipis. Berabad-abad kemudian di Romawi Kuno, rambut merah sempat menjadi puncak kecantikan.

Namun segalanya berubah setelah Julius Caesar membawa banyak tawanan dari Galia. Para wanita Romawi terpesona oleh rambut pirang alami para gadis Galia, lalu berbondong-bondong memakai wig yang terbuat dari rambut mereka.

Di Kekaisaran Persia, henna menjadi simbol kecantikan yang sangat digemari. Tradisi ini masih bertahan hingga kini di berbagai wilayah Timur Tengah.

Di Padang Rumput Asia, wanita Mongol menunjukkan status dan keanggunan melalui kepang rambut yang dihiasi kain bludru dan ornamen karang, ditambah hiasan kepala besar yang megah.

Di China juga demikian. Standar kecantikan zaman awal (Pra-Dinasti & Han Dynasty, ~206 SM–220 M), berbeda dengan era Dinasti Tang (618–907 M), Dinasti Song (960–1279 M), Dinasti Yuan, Ming, & Qing (1271–1912 M).

Namun ciri umum yang konsisten: kulit putih cerah, rambut hitam panjang mengkilap, dan kaki kecil atau “lotus emas” (sekitar 7–10 cm/ sehingga memunculkan tradisi foot binding.

Di Indonesia, sejarah standar kecantikan sangat beragam dan berbeda antar etnis dan wilayah (Jawa, Bali, Sumatra, dll). Dari
zaman Kerajaan Hindu-Buddha & Islam (Abad 7–16 M).

Umumnya cantik itu yang kulit sawo matang / kuning langsat. Tubuh proporsional, rambut hitam panjang, sanggul rapi, wajah bulat atau oval, alis tebal, bibir merah alami.

Namun ketika masa Kolonial Belanda (Abad 17–1945), kulit putih menjadi simbol status tinggi, kemewahan, dan superioritas. Wanita pribumi yang berkulit terang lebih dihargai. Mulai muncul preferensi hidung mancung, rambut lurus, dan fitur ala Eropa.

Namun, dari lulur kunyit para putri keraton hingga bedak dingin nenek moyang, kecantikan Indonesia selalu berakar pada alam dan keanggunan hati. Bukan kulit putih semata, tapi cahaya yang datang dari dalam.

Bagaimana menurut Anda? (riza)

BACA JUGA:  Hari Kartini Kota Batam: Bukan Sekadar Seremoni, juga tentang Kontribusi & Kolaborasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *