SAAT ini kita memasuki era post truth yang menggerus kredibilitas informasi. Post truth adalah iklim sosial politik di mana obyektivitas dan rasionalitas, kalah oleh emosi atau keyakinan bahkan hasrat.
Maksudnya, orang tidak peduli lagi dengan fakta objektif. Sehingga ketika apa yang ia yakini terancam oleh fakta, bukan keyakinannya yang berubah, malah fakta itu yang mereka pertanyakan.
Hal ini sering kami selalu admin amati bahkan hadapi saat kami memberitakan keberhasilan pembangunan Wali Kota Batam/Kepala Badan Pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR).
Biasanya para troll post truth ini muncul dengan komentar atau sikap menipu (deceptive), merusak (destructive) atau mengganggu (disruptive), dengan serangkaian kata-kata tuduhan.
Namun, begitu dibeberkan landasan ilmu dan fakta yang membantah tuduhannya, mereka bukannya menerima malah kepanasan dan balik menuduh yang bukan-bukan.
Maka ada dua cara yang bisa dilakukan menghadapi troll semacam ini: “Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak akan percaya itu,” jelas Syaidina Ali Bin Abi Thalib.
Atau mengikuti nasihat Imam Syafi’i: “Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing.”
Bagaimana menurut Anda? (ski)






