INSPIRASI PAGI: Ngalah Bukan Kalah

BUDAYAWAN yang juga “kyai mbeling” Emha Ainun Najib atau Mbah Nun, menjelaskan bahwa “mengalah” dalam bahasa Indonesia tak sama dengan ungkapan “ngalah” dalam bahasa Jawa.

Mengalah asal katanya “kalah”. Sedangkan “ngalah” adalah frasa dari kata “nga” berarti menuju, dan “alah” asal kata “Allah”. Artinya “menuju (rida) Gusti Allah”. “Kalimat ini pertama kali dikenalkan Sunan Bonang (Wali Songo),” ungkapnya.

Kronologinya, pada zaman berkembangnya Islam di Nusantara, dahulu, masyarakat Jawa hanya memiliki dua pedoman hidup ketika sedang berselisih atau berebut sesuatu, yakni menang atau mati (silakan baca perjalanan sejarah politik Majapahit, red).

Inilah yang kemudian coba diperbaiki melalui dakwah para sunan, dengan mengenalkan sikap sabar dan tawakal kepada Allah. Sehingga terciptalah frasa “ngalah”. Langkah ini jauh lebih baik dari model The Five Stages of Grief, milik Kübler-Ross.

Ketika orang Jawa ngalah, maka ia akan “ngalih”, yakni pindah, karena tidak mau akan adanya sesuatu yang mudharat semata. Hal ini menunjukkan kekuatan tersembunyi dan kemampuan untuk merajut harmoni dalam situasi yang kompleks.

“Wani ngalah luhur wekasane,” nasihat si Mbah. Artinya, berani mengalah demi kepentingan bersama adalah sikap yang luhur.

Namun ini bukan sifat final, karena jika sudah ngalah dan ngalih, masih diganggu juga, barulah boleh “ngamuk” alias marah.

Sekali lagi, ngalah bukan berarti kalah, melainkan strategi dan kebijaksanaan untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan yang lebih besar. Bahkan bisa melihat keindahan di baliknya, bagai menemukan mawar di dalam rimbun semak berduri.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version