“HIDUP ini bagaikan daun, pada masanya akan kering, gugur dan dilupakan.” Ya, kalau begitu jangan jadi daun. Tiru Thariq bin Ziyad.
Sebelum bertemu Musa bin Nusayr, dan memeluk Islam, Thariq hanyalah warga biasa di Tangier, Maghribi (Maroko), putra seorang Barber, suku asli Afrika Utara yang sudah lama menetap dari tepi Sungai Nil, hingga ke Maroko.
Keahliannya dalam ilmu perang dan menunggang kuda, membuat Musa mengangkatnya sebagai gubernur Kota Tangier.
Hingga akhirnya di musim panas tahun 711 Masehi, sang komandan militer dari dinasti Umayyah itu menuju Semenanjung Iberia.
Taric el Tuerto, “Thariq di Mata Satu” demikian orang Spanyol menjulukinya, akhirnya berhasil menaklukkan wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya pada 711-718 M).
Inilah awal Dinasti Umayyah berkuasa di sana hampir tiga abad (hingga 1031 Masehi), dan membawa akulturasi budaya, seni, dan ilmu pengetahuan ke penjuru Eropa.
Nama tempat di mana Thariq dan 7.000 pasukannya mendarat di Spayol, diabadikan orang dengan nama “Jabal Tariq”, dari bahasa Arab yang artinya “Gunung Thariq”. Orang Spayol melafazkan dengan “Gibraltar” yang abadi hingga kini.
Jadilah manusia yang mampu menginspirasi, memberi makna dan pengaruh besar dalam perjalanan hidup khalayak ramai. Sehingga nama kita akan menjadi ingatan kolektif masyarakat bahkan bangsa sampai ratusan bahkan ribuan tahun.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
