INSPIRASI PAGI: Perekat Sosial

“SATU musuh terlalu banyak, 1000 teman terlalu sedikit.” Pesan filsuf Tiongkok ini mengajarkan bahwa kolaborasi –bukan konfrontasi– adalah jalan mencipta kesepahaman, perdamaian, serta kemakmuran.

Dulu yang namanya teman itu dekat dan berhadapan. Sehingga terbentuk ikatan emosional (emotional bounding) antara satu dengan yang lain, dan akhirnya mengamplas kepribadian dan karakter seseorang. Kok bisa?

Dulu semua aspek tak bisa dilakukan jika tak punya banyak teman. Mulai bermain, belajar, hingga bekerja. Sayangnya, “stok” teman pun tak banyak.

Mau tidak mau, kita harus menjaga nilai agar tetap diterima di tongkrongan. Positifnya, membuat kita punya perekat sosial (social bounding), sehingga lebih kuat menghadapi hambatan.

Namun setelah internet khususnya media sosial mewabah, manusia kini hidup di dua dunia: nyata dan maya. Difinisi kawan sudah bergeser: tak harus kenal dekat dan berhadapan langsung.

Dalam dunia algoritma dan maya, mereka cenderung bisa “bersembunyi” atau menghindari interaksi langsung dengan orang lain, sehingga emosi tidak terlihat dengan jelas. Jarak psikologis pun sirna.

Kalau tidak dikontrol, beraktivitas di dunia maya semacam ini cenderung membuat kita selfish, egois, dan gampang jadi haters, siapa saja diserang: 1000 musuh terlalu sedikit. Pertemanan pun hanya dipandang angka tanpa rasa. Lama-lama kita terisolir, bagai katak dalam algoritma.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version