BANYAK orang berpikir bahwa berhenti atau menyerah adalah simbol kegagalan atau kalah. Sebenarnya tidak juga. Di buku “Think Like a Freak”, oleh Steven D Levitt & Stephen J Dubner, dijelaskan bahwa tahu kapan harus berhenti itu adalah salah satu pilihan untuk selamat atau menang.
Tragedi kecelakaan pesawat ulang-alik Challenger, pada Selasa, 28 Januari 1986, sebenarnya bisa dicegah jika saja para pemimpin NASA kala itu mendengar peringatan Allan McDonald.
Kepala insinyur pembuat roket pendorong itu sudah mengingatkan agar mau berhenti sejenak dan menunda peluncuran. Hal inilah yang melandasi munculnya ide premortem.
Disclaimer: tulisan ini bukan mengajak Anda agar mudah menyerah. Melainkan memberi prespektif baru, bahwa terkadang, berhenti adalah pilihan terbaik, agar kita dapat introspeksi dan bisa memulai sesuatu yang baru dengan cara yang lebih baik.
Hal ini sejalan dengan konsep opportunity cost dalam ekonomi, yakni setiap keputusan yang kita ambil memiliki biaya, waktu, energi dan perhatian. Maka harus ditimbang, agar energi dan waktu yang kita miliki tidak habis oleh hal-hal sepele. Sehingga tak keteteran saat menghadapi perang besar.
Hidup adalah perjalanan. Orang yang bijak tahu kapan saatnya maju, belok, bahkan berhenti agar menemukan jalan alternatif lain. Stay relevant. Jangan sampai membentur tembok atau masuk jurang.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Tahu Kapan Berhenti
