INSPIRASI PAGI: Stop Eksploitasi Anak

EKSPLOITASI BAYI: Seorang perempuan menggunakan bayi untuk mengemis rasa iba dari masyarakat. Fenomena semacam ini tak hanya tampak di dunia nyata, tapi juga dunia maya. (foto pinterest ciky idris)

SEBAGAI anggota paling lemah dalam keluarga, anak kerap jadi sasaran kekerasan bahkan dimanfaatkan (eksploitasi) orang tua dan keluarga dekat.

Alhasil, ketika orang yang lebih tua dihadapi suatu masalah, solusi yang dianggap mudah untuk meluapkan kesulitanya langsung mengarah kepada sang anak.

Tak sedikit juga kasus anak, bahkan bayi, yang dijadikan alat untuk mengemis agar memunculkan rasa iba.

Bentuk-bentuk eksploitasi pada anak yang masih sering dijumpai adalah, eksploitasi ekonomi, misalnya dipaksa bekerja. Selanjutnya eksploitasi seksual, terkait pornografi dan prostitusi.

Kemudian, eksploitasi sosial, yakni memanfaatkan anak untuk meraih popularitas dan keuntungan ekonomi pelaku. Anak mungkin masih mendapatkan hak-hak seperti tempat tinggal yang layak, pendidikan dan sebagainya, tetapi emosionalnya terganggu.

Salah satu penyebab eksploitasi ini, karena anak dianggap sebagai hak milik ayah atau ibu, bahkan keluarga terdekat lainnya. Jadi mereka bebas melakukan apapun. Itulah mengapa di negara-negara maju, privasi anak sangat dilindungi.

Penyair Lebanon-Amerika, Gibran Kahlil Gibran, pernah menulis dalam syairnya: Anakmu Bukanlah Anakmu. “Dan meski mereka bersamamu, mereka bukan milikmu. Kau boleh memberi mereka cinta tapi bukan pikiranmu.”

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version