SI UNYIL merupakan salah satu animasi ciptaan Drs Suyadi atau yang akrab dipanggil “Pak Raden”. Selain Unyil terdapat beberapa tokoh lainnya, yaitu Usro, Ucrit, Meilani, Pak Raden, Pak Ogah, Ableh, Mbok Bariah, Pak Lurah, bahkan orang gila dan penjahat.
Mengutip dari Tempo .co edisi 2021, serial Si Unyil tayang di TVRI untuk pertama kalinya pada tanggal 5 April 1981. Kisah boneka Produksi Film Negara (PFN) ini menjadi tontonan favorit anak-anak pada era 1980-1990an di Minggu pagi.
Namanya juga boneka, ucapan, peran, dan sikap Unyil dikendalikan orang lain, baik oleh tangan pemain, sutradara hingga produser. Bahkan sekalipun perannya harus mempertaruhkan harga diri pribadi bahkan bangsa dan negara pun akan dilakukan.
Khittah atau garis perjuangan boneka memang seperti itu: mem-boneka-kan diri. Sama sekali tak memiliki independensi, integritas, otoritas, dan kemandirian. Apalagi kuasa finansial.
Kehidupan panggung ini, menarik perhatian Sosiolog Erving Goffman (1922), yang ia ulas dalam sebuah karya besarnya, yaitu sebuah buku berjudul “The Presentation of Self in Everyday Life” (terbit tahun 1956).
Dalam buku tersebut Erving Goffman, mengurai konsep pemikirannya yang disebut teori “dramaturgi”. Di dalamnya terdapat dua konsep besar, yaitu front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang) yang sering berbeda 180 derajat .
Menurut Goffman, individu mencitrakan dirinya di panggung depan sesuai harapan publik. Mirip lirik dalam lagu “Bento”, khutbah soal moral, omong keadilan jadi sarapan paginya. Namun di panggung belakang, karakter asli si tokoh akan terlihat.
Di wilayah sutradara dan produser ini, biasanya tekanan atau instruksi dari pihak-pihak tertentu datang tanpa mempertimbangkan integritas dan prinsip-prinsip yang dianut.
Ingin sukses? Jadilah pemimpin boneka… Eh maksudnya, jadilah pemimpin pertunjukan boneka. Siapa tahu dapat menyamai ketenaran Si Unyil yang di puncak jayanya tayang lebih dari 603 seri.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Unyil, Sang Boneka
