KETUA Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis, berpendapat bahwa puasa mengajarkan empati persatuan. Sebab ketakwaan mampu mengelola emosi agar terjaga dari kemarahan.
Cholil mencontohkan buka puasa bersama. Di Indonesia kegiatan tersebut adalah akomodasi keagamaan dengan kearifan lokal. Berbuka puasa bersama menjadi sarana silaturahim utk mengeratkan hubungan persaudaraan dan persatuan.
Buktinya, tak sedikit ritual buka puasa dihadiri non-Muslim, baik juga terjadi dalam acara buka puasa kenegaraan atau pertemanan. Tak jarang juga dalam acara buka bersama hadir perwakilan dari negara sahabat.
“Saat acara buka bersama dapat dihadiri dan bahkan mengundang orang yg tak berpuasa sekalipun, namun ikut bersama berbuka puasa dalam rangka mengikat tali persaudaraan se bangsa dan se Tanah Air,” kata dia.
Karena itu, menurut Cholil, puasa diwajibkan sejak nabi-nabi terdahulu meskipun dengan format yang berbeda. Intinya puasa itu latihan bagaimana seseorang mau melepas ego, amarah, dan kebenciannya menjadi cinta antara sesama.
“Makanya, saat seseorang berpuasa tak boleh melayani kemarahan dirinya dan orang lain, dan cukup berikrar bahwa dirinya dalam keadaan berpuasa,” tutur dia.
Bagaimana menurut Anda?(ski)






