SELAIN mekanisme alarm, di dalam diri kita juga ada mekanisme pemulihan kondisi tubuh secara alamiah penelitian tentang hal ini dilakukan oleh J Kelberg dan Reizen Stein dari Finlandia.
Berdasar penelitiannya, mereka menyimpulkan bahwa tubuh kita memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri alias memulihkan kondisi menuju pada keseimbangan alamiahnya, asalkan diberi kesempatan.
Contoh, jika kita terbiasa makan banyak dalam frekuensi tinggi yang tidak teratur, maka cobalah mengubah pola yang sudah menjadi kebiasaan tersebut menjadi pola yang meringankan beban sistem pencernaan.
Sehingga mekanisme bawah sadar kita bakal menyusun dan rehabilitasi kembali menuju pada keseimbangan alamiahnya.
Nah dalam konteks inilah puasa Ramadan memiliki mekanisme untuk menyeimbangkan kembali sistem di dalam badan kita.
Sebagaimana ditulis Agus Mustafa dalam bukunya “Untuk Apa Berpuasa”. Menurutnya, puasa adalah sebuah mekanisme untuk memberikan kesempatan kepada badan setelah selama setahun kita membebani sistem pencernaan secara maraton.
Ada tiga proses yang terjadi saat kita berpuasa. Yang pertama adalah proses detoxifikasi alias penggelontoran racun-racun sisa metabolisme, yang kedua proses rejuvenasi atau peremajaan kembali, dan ketiga adalah stabilisasi alias pemantapan sistem.
Ketiga proses itu memang bergantung kepada berapa lama kita menjalani puasa. Semakin sering akan semakin baik.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah niscaya kalian akan sehat.” (Hadis diriwayatkan Ath Thabrani dalam Mu’jam al Awsath)
Bagaimana menurut Anda?(ski)






