Ada yang berpikir bahwa kebahagiaan itu adalah hal yang menyenangkan dan nikmat saja. Sedangkan ketidakbahagiaan adalah yang menyakitkan dan tak nyaman.
Padahal jika dikaji lebih dalam, sebenarnya keduanya saling melengkapi. Ibarat pelangi yang muncul usai hujan. Atau makanan akan terasa nikmat saat kita lapar. Atau lagi, sehat akan terasa nikmat setelah kita merasakan sakit.
Maka itu, biarkan semua mekanisme ini berjalan apa adanya. Sebab caranya sudah paham, “jika ingin merasakan kebahagiaan pahami saja betapa pahitnya ketidakbahagiaan.”
Sederhananya, syukuri apa yang ada saat ini. Kalau dalam konsep agama: urusan dunia lihatlah ke bawah, dan capaian ibadah lihatlah ke atas.
Ingat, kebahagiaan tak sama dengan kesenangan. Secara medis, kesenangan dipicu oleh dopamine, dan kebahagiaan bergantung pada serotonin.
Karena itu kesenangan selalu memicu kecanduan, sedangkan kebahagiaan umumnya terkait hubungan sosial dan rasa cukup.
Jika dopamine sering dipacu, maka akan semakin memicu resiko kehilangan serotonin. Artinya: semakin kita mengejar kesenangan, makan semakin akan kita temukan ketidak-bahagiaan.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






