TENTU saja Prabowo Subianto mengagumi Soekarno. Baginya, Sang Proklamator itu merupakan tokoh yang dianggap ksatria panutan. Soekarno dipandangnya sebagai seorang intelektual, orator dan organisator yang hebat.
Pengakuan jujur ini terangkum di halaman 300, buku, “Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto”, yang diterbitkan pada bulan Juni 2021 lalu.
Di halaman 309-10, yang mengungkap sejarah nama partai Gerindra. Ternyata partai Prabowo ini, berasal dari nama partai yang didirikan Soekarno sebelum Indonesia merdeka, yaitu “Partai Indonesia Raya” atau “Parindra”. Kakek Prabowo sempat menjadi ketuanya.
Namun saat Parindra hendak didaftarkan Prabowo ke Kemenkumham RI, keinginan tersebut ditolak karena nama partai itu telah digunakan dalam Pemilu di tahun 1955.
Akhirnya kata “partai” diganti “gerakan”, sehingga menjadi “Gerakan Indonesia Raya” atau Gerindra, seperti saat ini.
Yang menarik, di buku ini Prabowo selalu menekankan pentingnya belajar sejarah, agar kita tidak mengulangi kesalahan, dan bertekad menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kuat, supaya tidak diinjak-injak bangsa lain yang lebih kuat.
Filsuf Yunani, Thucydides pernah mengingatkan, “Yang kuat akan melakukan apa yang dia dapat, dan yang lemah hanya akan menderita.”
Bagaimana menurut Anda? (ski/habis)
INSPIRASI PAGI: Membaca Prabowo (2)






