MEKAH, KataBatam- Menangis dan air mata tentu tidak identik denganan Infantilisme (kekanak-kanakan). Air mata disimpulkan para sufi sebagai penanda kebeningan hati, kekuatan nurani dan kedalaman penghayatan.
Demikian gairah yang bisa kita tangkap saat membaca tulisan Wali Kota Batam DR Amsakar Achmad, “Catatan Pelepas Penat: PERJALANAN CINTA”, yang ia tulis dan unggah di media sosialnya di sela menjalani fase puncak haji, Sabtu 13 Zulhijjah 1447 H, atau 30 Mei 2026.
Tangisan dan air mata Amsakar Achmad , yang tertumpah, bukan tangisan yang menempatkan nestapa diri sebagai sumber keharuan. Tetapi tangisan yang menempatakan ketakutan berpisah dengan Allah sebagai sumber kesedihan.
Pada titik ini, air mata jemaah haji yang mengalir, diyakinkan para sufi akan menjadi mata air kehidupan. Ketulusan binar cinta kepada Allah, dan Rasulullah pada akhirnya akan berbalas mata air cinta dari Allah dan Rasulullah.
Berikut petikannya:
Dengan telah dilaksanakannya tawaf wada, berarti rangkaian pelaksanaan ibadah haji yang saya lakukan telah sampai di penghujung.
Tawaf wada adalah tawaf perpisahan kepada Baitullah, sambil berharap bahwa perpisahan ini bukanlah yang terakhir.
Saya dan istri (Erlita Sari Amsakar, Ketua TP-PKK Kota Batam), memohon agar Allah menerima seluruh amal ibadah kami, serta mempertemukan kami kembali dengan Tanah Suci.
Terus terang, rongga hati saya masih menyisakan cinta dan getar kerinduan kepada Baitullah, justru ketika tawaf wada, baru saja terlaksana.
Jika merenungi kembali hakikat perjalanan haji, saya memaknainya sebagai “perjalanan cinta” untuk mengelola spiritualitas. Cinta kepada Allah, cinta kepada baitullah, Cinta kepada ajaran para rasul terdahulu, dan cinta kepada rasulullah.
Di sini jutaan manusia bersimpuh, menangis, memohon ampun, mengakui kealfaan, dan menyadari banyak sekali kekurangan diri.
Sesungguhnya kita merasa bermakna di hadapan manusia, namun tidak ada apa-apanya di hadapan Yang Maha Kuasa.
Menangislah wahai manusia semampu kau mengucurkan air mata, selagi itu menumbuhkan kearifan diri bahwa diantara kita tidak satu pun yang steril dari dosa. (ski)
Maknai Perjalanan Haji sebagai Perjalanan Cinta, Air Mata Amsakar Tumpah di Tanah Suci






