SEMASIH memimpin Partai Konservatif di Inggris, tahun 1976, Margaret Thatcher berpidato di Balai Kota Kensington di Chelsea, dengan judul “Britain Awake”, yang memperingatkan pejabat Inggris mewaspadai kemungkinan agresi Uni Soviet (berpusat di Rusia, & bubar tahun 1991, red).
Beberapa hari kemudian, surat kabar Tentara Soviet Red Star menyebut Thatcher sebagai “Wanita Besi”, sebagai penghinaan atas sikapnya yang dingin. Bukannya marah, Thatcher menyukai julukan itu, dan melekat hingga dia menjabat perdana menteri wanita pertama Inggris.
Di era sekitar tahun 1953 hingga 1989 tersebut, dunia dilanda Perang Dingin antara blok Barat (Amerika Cs) dan Timur (Rusia Cs/Uni Soviet). Dunia pun terbagi antara dua ideologi, komunisme dan kapitalisme.
Ini adalah zaman yang ditandai oleh perpecahan, persaingan, dan julukan yang sangat menarik. Presiden Amerika John F Kennedy dan Ronald Reagan disebut sebagai “Prajurit Dingin”, sebaliknya, Reagan menyebut Uni Soviet sebagai “Kekaisaran Jahat” dan wilayah di bawah kendali Soviet adalah “Tirai Besi”.
Yang menarik di sini adalah melihat sikap Thatcer yang tak ambil peduli terhadap mereka yang kerap mencibir, dalam hal ini Kremlin. Sebagai pemimpin dia memilih fokus pada tujuan.
“Saya suka argumen, saya suka berdebat. Saya memang tidak mengharap orang lain cuma duduk saja dan setuju dengan semua sikap saya, itu bukan tugas mereka,” katanya dalam sebuah wawancara tahun 1980.
Bahkan dengan bangga Thatcher berkata, “Saya punya kemampuan seorang perempuan untuk tetap menjalani pekerjaan dan terus melakukannya saat yang lain sudah menyerah dan kabur!”
Benar-benar “Wanita Besi”…
Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
Referensi:
> BBC News Indonesia
> The Churchill Project
INSPIRASI PAGI: Tepis Hinaan ala Thatcher






