DI DALAM budaya Jawa, dikenal peribahasa “kere munggah bale”, artinya orang miskin naik ke balai. Apa itu?
“Kere”, di sini dimaknai dalam artian luas, bukan hanya manusia yang miskin harta benda. Namun lebih parah, miskin intelektual, miskin adab dan tatakrama. Dalam bahasa Inggris disebut poor mindset.
“Bale”, adalah tempat terhormat, yang di jaman sistem monarki dahulu, hanyalah tempat bagi orang terhormat, atau dalam bahasa yang maknanya sempit. Bale adalah tempat bagi para bangsawan kerajaan.
Kata budayawan Butet Kartaredjasa, sifat kere munggah bale, bisa dilihat dari tingkah orang yang masih sibuk dengan simbol-simbol fisik.
Dia menyangka dengan menempelkan barang-barang mahal di tubuhnya, atau memamerkan bekingnya, seperti presiden dan lain-lain, maka kemuliaan atau derajatnya akan naik. Padahal seseorang itu bernilai karena integritasnya.
“Setiap manusia pasti punya naluri purba. Salah satunya keserakahan. Tapi kita semua belajar mengenal apa itu norma, etika, tata krama atau kepantasan. Agar bisa mengerem keserakahan itu,” jelasnya.
Maka, jika seseorang tidak mampu mengerem keserakahannya, serta tidak tahu batasnya, maka itulah bisa juga disebut “kere munggah bale”. Norak tahu!
Bagaimana menurut Anda? (ski)
IN2PIRASI PAGI: Kere Munggah Bale






