MUNGKIN kita sudah pernah jadi korban, atau bahkan menjadi pelaku prank. Perbuatan jahil semacam ini biasa dilakukan untuk tujuan hiburan dan bersenang-senang. Katanya begini, ternyata begitu. Pagi kedelai, sore jadi tempe.
Perlu diketahui, bahwa prank bukan merupakan hal baru, yang baru ada belakangan ini saja. Bahkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW, ada salah seorang sahabat bernama Nu’aiman juga sering nge-prank. Bahkan Nabi-pun pernah menjadi sasaran kejahilannya.
Dari beragam kisah prank yang melibatkan sahabat Nu’aiman dan Nabi Muhammad SAW, kita bisa melihat tentang bagaimana pandangan Islam mengenai prank, melalui reaksi Rasulullah terhadap perbuatan jahil Nuaiman.
Dilansir dari liputan6 .com, dalam pandangan Islam, hukum prank, lelucon, atau gurauan, tentu saja diperbolehkan. Hal itu ditunjukkan dari sikap Rasulullah SAW yang masih tetap sabar dan memaklumi sikap jahil yang dilakukan Nu’aiman.
Akan tetapi, jika prank tersebut bersifat menipu, mengintimidasi, mempermalukan publik, membuat kaget dan takut, menyebabkan orang lain celaka, merendahkan dan mengejek, serta mengandung dusta dan ghibah, maka hukum prank adalah haram dilakukan.
Mari di Bulan Ramadan 1445 Hijriah ini, kita isi dengan perbuatan bermanfaat. Daripada nge-prank orang, mending perbanyak amalan untuk memperbaiki diri.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI 7 RAMADAN: Tukang Prank






