INSPIRASI JUMAT: “Ngaku Lepat”

PADA sekitar abad ke-15 hingga ke-16 Masehi, Sunan Kalijaga, memperkenalkan terciptanya hidangan kue beras, yang dikenal sebagai ketupat, kepada masyarakat Jawa.

Sebenarnya hidangan seperti ketupat ini telah ada jauh sebelum kedatangan Islam di Asia Tenggara (termasuk di Indonesia). Beras dan beras ketan telah dibudidayakan di lembah sungai Mekong (tanah air asli orang Austronesia) 5000–6000 tahun yang lalu, kemudian disebarkan ke selatan, oleh orang Proto dan Deutro-Melayu (orang-orang yang berbahasa Austronesia), ke Asia Tenggara maritim.

Bedanya, Sunan Kalijaga yang pertama kali menciptakan sekaligus mengaitkan beberapa simbol atau makna filosofis Islam pada makanan ini, sebagai pendidikan religio-kultural, sehingga dengan mengonsumsi sajian ini, masyarakat dapat secara positif menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini tampak dari sisi penamaan. Dalam bahasa Jawa, ketupat biasa dikenal dengan sebutan “kupat” —portmanteau dari dua kata ngaKU (mengakui) dan lePAT (kesalahan).

Ketupat terbuat dari beras atau beras ketan yang dibungkus dalam wadah dari anyaman daun kelapa dan dirancang berbentuk wajik tebal dengan empat sisi.

Keempat sisi tersebut adalah simbol yang secara filosofis ditafsirkan sebagai empat kegiatan utama (laku papat ) yang harus dilakukan umat Islam setelah bulan Ramadan, yaitu lebaran (berarti: mengakhiri kebiasaan buruk seperti yang biasa dilakukan di masa lalu).

Kemudian, luberan (berarti: memperkaya hati dan jiwa dengan banyak kebaikan”), leburan (berarti: mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan sehari-hari) dan laburan (berarti: menyucikan hati dan jiwa dengan melakukan kebaikan”).

Kegiatan-kegiatan ini secara komprehensif menekankan penyelesaian bulan puasa dengan banyaknya pengampunan dan penghapusan semua dendam, dari lubuk hati, untuk mendapatkan tingkat kemurnian dan kebenaran yang lebih baik.

Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
Referensi:
> Journal of Ethnic Foods: Diversity of Indonesian Lebaran dishes: from history to recent business perspectives

> Ranti A, Novenia AE, Christopher A, Lestari D, Parassih EK. Ketupat sebagai makanan tradisional budaya Indonesia. J Ethn Foods. 2018;5:4–9.

> Budaya Asia Tenggara dan Islam. Ensiklopedia Islam dan Dunia Muslim. Encyclopedia.com. 2019.

> Beatty A. Ragam Agama Jawa. Cambridge: An Anthropological Account. Cambridge University Press; 1999.

> Martin RC. Ensiklopedia Islam dan dunia Muslim. New York: Macmillan Reference USA; 2004.

> Sattaka P. Distribusi geografis beras ketan di sub-wilayah Mekong Raya. J Mekong Soc. 2016;12(3):27–48.

> Yovani T. Lamang tapai: makanan Melayu kuno dalam tradisi Minangkabau. J Makanan Etn. 2019;6:22.

> Nocheseda EI. Seni Pusô: seni daun lontar di Visayas dalam kosakata abad keenam belas hingga kesembilan belas. Philipp Stud. 2011;59(2):251–72.

BACA JUGA:  Marlin Belum Berhasil Nakhodai Kwarda Pramuka Kepri Setelah Bertahun Terganjal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *