INSPIRASI PAGI: Bos yang Kompeten

SAAT masih menjabat sebagai bos Jawa Pos, Dahlan Iskan melihat fenomena unik di kalangan anak buahnya. Khususnya wartawan. Di mana, banyak reporter hebat yang tak kompeten ketika dipromosikan sebagai redaktur. Kenapa itu terjadi?

Ternyata fenomena semacam ini juga terjadi di dunia kerja dalam profesi apapun. Bahkan menurut riset Gallup, 82 persen perusahaan gagal memilih kandidat yang cocok untuk jadi manajer. Tak heran kalau kita sering ketemu bos yang tak kompeten: technical skillnya jago, tapi kemampuan manajerialnya kurang.

Dr. Laurence J. Peter, pernah meneliti soal ini, sehingga ditemukan fakta yang dia sebut “Prinsip Peter”. Konsep ini pertama kali ia perkenalkan dalam bukunya yang berjudul “The Peter Principle: Why Things Always Go Wrong” yang diterbitkan pada tahun 1969.

Kembali lagi ke Dahlan Iskan, untuk menyikapi hal ini, dia mengusulkan kepada para CEO-nya, agar tak menjadikan promosi sebagai satu-satunya penghargaan untuk karyawan. Ada banyak bentuk apresiasi yang bisa diberikan, seperti kenaikan gaji, bonus, atau flexible work arrangements.

Jurus lain, bedakan peran dan tanggung jawab mereka. Karyawan yang skill manajerialnya bagus, boleh diberi tanggung jawab memimpin tim. Sedangkan yang technical skillnya jago, tetap saja fokus meningkatkan kualitas pekerjaan.

Sebab, tak semua karyawan yang jago technical skill, kualitas kerjanya bagus, sering mencapai KPI (key performance indicator), punya skill manajerial yang dahsyat. Ingat, chef terbaik pun belum tentu bisa sukses mengelola restoran. Tak semua pelatih hebat adalah pemain sepakbola.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Lantik Erlita sebagai Bunda PAUD & Literasi, Amsakar: Buka Jendela Dunia Anak-anak Kita!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *