INSPIRASI PAGI: Menghalau Politik Dendam

PEMIMPIN besar tak memelihara dendam. Sebab, fokusnya kepada kemanusiaan. “Dendam tidak akan dapat membangun negara, tapi memaafkan selalu menjadi jalan menuju kebangkitan sebuah bangsa,” kata Nelson Mandela.

Pemimpin besar Afrika Selatan itu membuktikan kata-katanya tersebut, setelah dizalimi lawan politiknya dan dijebloskan ke penjara selama 27 tahun.

Mandela tak dendam. Termasuk kepada sipir yang dulu menyiksanya di ruang isolasi. “Pernah, ketika aku haus dan meminta air darinya, dia malah mengencingi kepalaku,” kisah Mandela, usai bertemu dengan mantan sipir tersebut.

Hal yang sama juga dialami Buya Hamka. Di awal 1960-an hubungan dengan Presiden Sukarno, yang tak lain sahabatnya, renggang. Bahkan akhirnya Hamka dipenjarakan selama dua tahun.

BACA JUGA:  McDermott Segera Rekrut 12 Ribu Pekerja, BP Batam: Angin Segar Industri Maritim Batam

Namun saat Sukarno meninggal, Hamka –atas wasiat Sukarno– bersedia menyalatkan jenazah sahabatnya tersebut. Bagi Buya, dendam politik itu tidak boleh ada.

Demikian juga dicontohkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Meski sudah dilengserkan dari jabatan Presiden pada 23 Juli 2001 silam, ia tak dendam kepada lawan politiknya.Pemimpin dinilai berdasarkan karakternya.

Dari Gus Dur kita melihat pentingnya politik sebagai sarana mencapai keadilan dan kesejahteraan, bukan alat untuk membalas dendam.

“Memaafkan tidak akan mengubah masa lalu, tetapi memberi ruang besar untuk masa depan,” ujar tokoh yang memimpin Indonesia dengan nilai-nilai demokrasi, toleransi dan dialog ini.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *