DI HARI PAHLAWAN, 10 November 2025 ini, mari sejenak kita hayati patriotisme Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812), yang berjuang menyelamatkan kerajaan Riau Lingga dari cengkeraman penjajah Belanda.
Sekedar diketahui, wilayah administratif Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), termasuk Batam sekarang ini, dahulunya adalah wilayah Kerajaan Riau Lingga yang dirampas Belanda melalui Perang Riau 1784.
Kerajaan Riau Lingga yang kekuasaannya mencakup Johor hingga Pahang, didirikan kakeknya, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, tahun 1722, dengan bantuan bangsawan Bugis Upu-upu Lima Bersaudara (Daeng Perani Bersaudara), sebagai penerus Kerajaan Melaka dan Johor, bagian dari lmperium Melayu, yang eksis di rantau Melayu ini sekitar 8 abad!
Hingga ketika Sultan Mahmud Riayat Syah bertahta di tahun 1761, kemudian dewasa, wilayah inilah yang dipertahankan dan diperjuangkannya selama 30 tahun dari cengkraman Belanda, dengan taktik gerilya laut.
Sebagai strategi untuk melawan tekanan Belanda, Sultan yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2018 ini, memindahkan pusat pemerintahan dari Hulu Riau (Tanjungpinang) ke Daik, Lingga, pada tahun 1787.
Hingga tahun 1795, tokoh yang namanya diabadikan sebagai nama masjid terbesar di Sumatera yang ada di Batam tersebut, berhasil menjadikan Riau Lingga sebagai kerajaan yang merdeka dari Belanda dan Inggris.
Andai sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Mudanya Raja Haji Fisabillah (juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1997), tidak berjuang dan berdarah darah, maka tidak ada wilayah yang kini menjadi Provinsi Kepri.
Mungkin kita yang juga warga Batam ini, hanya bagian dari Siak, Jambi, Palembang, atau bahkan Pontianak. Maka, berterimakasihlah kepada jasa mereka itu, agar tidak kualat dan dihukum sejarah.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
______
REFERENSI: “Belajarlah dari Sejarah”, oleh: Rida K Liamsi
INSPIRASI PAGI: Menghayati Pahlawan






