SAAT ini artificial intelligence (AI/kecerdasan buatan) sudah mengubah aturan permainan dunia. Lihat saja, hari ini, AI mampu menggantikan sebagian besar pekerjaan berbasis pengetahuan. Seperti:
– menulis esai.
– membuat presentasi.
– menjawab soal.
– menganalisis data.
– membuat kode program.
– mendesain gambar.
Karena itu China, menghapus lebih dari 12.200 program studi/sarjana. Sebagai gantinya, 10.200 program baru dibuka. Fokusnya pada AI serta bidang genome. Seperti: kecerdasan buatan, big data, robotika, dan teknologi masa depan.
Bahkan di Anhui University of Science and Technology China, anak-anak sejak umur 12 tahun sudah dikelompokkan dan disiapkan menjadi kader-kader teknologi masa depan.
Indonesia bagaimana? Apakah kita masih melatih anak-anak untuk bersaing, bahkan melawan AI? Mampukah mereka menghadapi masa depan, jika sistem yang dirancang masih ada di masa lalu? Bahkan sekolah masih mengajar ilmu untuk dunia kerja yang sudah tak lagi ada?!
“Saya sedang mengembangkan brain factory, yang berisi anak-anak super pintar dengan IQ yang bisa mencapai 160. Beberapa world class university pun disiapkan,” ungkap Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.
Langkah memperkuat ekosistem SDM di bidang teknologi, khususnya AI, semacam ini harus didukung. Sehingga, bonus demografi yang akan kita nikmati pada 2040 tercapai, dan generasi emas tak lagi cemas.
“Saya pikir, dari semua hal yang bisa mendorong kita ke sana (jadi negara maju/high income country), salah satunya adalah AI,” pungkas Luhut.
Bagaimana menurut Anda? (riza)
_______
FOTO ilustrasi: AI generated Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra. Dulu, perlu waktu berjam-jam untuk bisa membuat gambar semacam ini. Tapi dengan AI, hanya kurang dari 1 menit.
INSPIRASI PAGI: Merangkul AI






