PADA tahun 1950-an, industri perfilman di Malaya (kini Malaysia), dikuasai oleh Shaw Brothers melalui Malay Film Productions (MFP) di Studio Jalan Ampas, Singapura (dulu masih jadi bagian Federasi Malaysia).
Meski film Melayu kian berkembang, tetapi gaji para pekerja di MFP masih memprihatinkan, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan artis, kru film dan pekerja belakang layar. Jam kerja pun tak sesuai.
Saat itulah, aktor tenar P Ramlee yang juga Presiden Persatuan Artis Filem Malaya (Persama) melakukan aksi mogok, sehingga pemerintah Malaya campur tangan. Akhirnya, tuntutan dikabulkan. Gaji artis dan pekerja MFP dinaikkan.
Namun perjuangan mereka tidak terhenti di situ! Mogok masih berlanjut menjelang Idulfitri 1957, sehingga Persama mencari cara mengumpulkan dana untuk membantu artis dan kru film yang terdanpak.
Maka digelarlah konser amal bertajuk “Malam Suka Duka” di Taman Hiburan Happy World. Dalam persiapan acara tersebut, P Ramlee muncul dengan sehelai kertas yang tertulis nada lagu.
P Ramlee meminta Jamil Sulong (Bendahara Persama) menulis liriknya, karena lagu itu akan menjadi pembuka konser. Hanya dalam 10 menit, lirik pun tercipta.
Lagu yang diberi judul “Selamat Hari Raya” ini, akhirnya direkam dan dipopulerkan oleh Ahmad Jais, dan menjadi lagu hari raya paling ikonik di Malaysia, dan selalu berkumandang hingga kini.
Dari sini kita melihat bagaimana momentum membuahkan keberuntungan, yang terjadi ketika persiapan bertemu dengan peluang.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
Referensi:
> Artikel penulis Malaysia, Azizul Farhan
> Buku, “P Ramlee, Tiada yang Kedua”
INSPIRASI PAGI: P Ramlee & Lagu Hari Raya






