53 Tahun Jefridin, Pejuang Tangguh di Karir & Keluarga: Selamat Ulang Tahun Pak Sekda!

𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑖𝑛𝑖, 25 𝐷𝑒𝑠𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟, 53 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑙𝑢, 𝐽𝑒𝑓𝑟𝑖𝑑𝑖𝑛 𝐻𝑎𝑚𝑖𝑑 𝑙𝑎ℎ𝑖𝑟 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑢𝑎𝑠𝑎𝑛𝑎 𝑝𝑟𝑖ℎ𝑎𝑡𝑖𝑛. 𝑆𝑒𝑚𝑢𝑙𝑎 𝑑𝑢𝑛𝑖𝑎 𝑡𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑎𝑙𝑛𝑦𝑎. 𝑁𝑎𝑚𝑢𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑔𝑖𝑔𝑖ℎ𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎, 𝑘𝑖𝑛𝑖 𝑙𝑒𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑢𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑘𝑢𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑟𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛𝑎𝑛 𝐵𝑎𝑡𝑎𝑚.

SAAT INI orang mengenal Jefridin sebagai Sekretaris Daerah Kota Batam. Tugasnya membantu Wali Kota Batam H Muhammad Rudi, menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan Organisasi Perangkat Daerah (dinas dan lembaga teknis) Kota Batam.

Dalam struktur jabatan aparatur sipil negara (ASN), Sekda dapat disebut jabatan paling puncak dalam pola karier ASN daerah.

Karena itu, seorang Sekda diangkat dari ASN yang memenuhi persyaratan, sebab kedudukannya juga sebagai pembina PNS di daerahnya.

Kesuksesan ibarat gunung es, selalu mulus dan indah di puncak, namun kita tak tahu bagaimana keras dan tajamnya yang tersembunyi dalam air itu.

Sebagaimana orang bijak berkata, “Kita hari ini adalah apa yang telah kita lakukan di masa lalu.”

𝗟𝗮𝗵𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗦𝘂𝗮𝘀𝗮𝗻𝗮 𝗣𝗿𝗶𝗵𝗮𝘁𝗶𝗻
Jefridin lahir di Selatpanjang, Riau dari keluarga pas-pasan. Untuk bisa terus menyintas hidup, Jefridin muda harus banting tulang melewati ganasnya kehidupan di Riau.

“Saya hidup bersama Mak dan Bapak sejak lahir sampai kelas 3 SMP. Usia SPG dan Kuliah saya merantau dan sejak itupula berpisah dengan kedua orang tua tercinta Kakak dan kedua adik saya,” kenangnya suatu ketika.

BACA JUGA:  SAFARI RAMADAN: Senangnya Warga Nongsa Bertemu HMR di Masjid Jabal Nur

Meski pas-pasan, Jefridin selalu dididik dengan nilai-nilai luhur. Ibundanya yang dia panggil “Mak”, selalu menekankan pentingnya kejujuran dan hidup penuh rasa syukur dan mengasihi sesama.

“Waktu kecil Mak mendidik saya, kakak dan adik-adik jadi orang sederhana. Mak dan Bapak mendidik saya untuk selalu berhemat dan berbagi dengan sesama yang membutuhkan,” jelasnya.

Karena didikan ini, setelah dewasa kelak, Jefridin memiliki rasa sosial tinggi. Yang paling penting, dia pantang menjadi biang kerok di lingkungannya.

“Itu juga pesan orang tua. Beliau selalu berpesan jangan usik orang lain. Jika saya berkelahi dengan teman sebaya Mak dan Bapak tak pernah menyalahkan orang lain pasti yang salahkah adalah saya. Itulah yang membuat saya takut berkelahi waktu kecil,” ujarnya.

Tak lupa kedua orang tuanya juga menekankan nilai-nilai agama, layaknya keluarga muslim Melayu di Riau.

“Mak dan Bapak akan marah besar jika saya meninggalkan atau lalai melaksanakan salat lima waktu dan puasa di bulan Ramadan,” ungkapnya.

𝗕𝗲𝗿𝘁𝗲𝗺𝘂 𝗛𝗮𝗿𝗶𝘆𝗮𝗻𝘁𝗶, 𝗔𝗸𝘁𝗶𝘃𝗶𝘀 𝗞𝗮𝗺𝗽𝘂𝘀 𝗻𝗮𝗻 𝗖𝗲𝗿𝗱𝗮𝘀
Kebiasaan di atas tersebut selalu dia bawa dan laksanakan saat merantau menuntut ilmu ke Bangkinang dan Pekanbaru. Hingga saat ini, di puncak suksesnya, dia turunkan ajaran tersebut kepada dua buah hatinya, Melgie Riyan Utami dan Muhammad Wildan Riyansyah, setelah menikah dengan Hj Hariyanti Jefridin, kembang kampus di Universitas Islam Riau, dulu.

BACA JUGA:  Usai Meninjau, HMR Deadline Kontraktor Segera Perbaiki Lepasnya Plafon Masjid Tanjak

“Kami berdua adalah aktivis. Saat itu saya ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, dan ibu adalah bendahara,” ujarnya sambil tersenyum, mengenang pertemuan dengan dara yang kini menjadi ibu dari anak-anaknya itu.

Sopandi Bathin Galang, teman main Jefridin juga mengisahkan bagaimana Jefridin saat kecil dahulu.

“Bang Jefridin ni orang yang gigih, kalau balik kampung waktu kuliah, selalu bantu orang tuenye bekerja di kilang (pabrik) papan, macam macam pekerjaan dilakukannye, dan ibunye bang Jefridin berjualan di sekolah untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” jelasnya.

Bagi Sopandi, kenangan paling dahsyat yang dia resap hingga kini, saat menikmati mi buatan ibunda Jefridin, saat istirahat belajar di sekolah.

“Yang saye ingat mi siam buatan ibu Tina (panggilan ibunda Jefridin) paling sedap waktu kami sekolah dulu,” kenangnya.

Untuk membantu ibunda, lanjut Sopandi, waktu SD Jefridin juga jualan es dan kue dadar (kue dado) keliling kampung. Kue yang dia jual adalah buatan ibundanya.

BACA JUGA:  Pengurus KONI Kota Batam Sowan HMR

“Dulu jalan masih tanah. Ajap (susah) kalau ke sekolah,” sambungnya.

Sopandi juga mengisahkan masa-masa kakak tingkatnya saat kulah dulu. Jefridin harus nyambil bekerja untuk bantu uang kuliah.

“Waktu kuliah, bang Jefriden ni aktivis kampus, dan die selalu membuat kegiatan pemuda di kampung Bokor kalau waktu libur kuliah,” jelasnya.

Karena terbiasa hidup pas-pasan dan kerja keras, membuat Jefridin lebih tangguh menghadapi kehidupan. Hingga kemudian memutuskan hijrah ke Batam.

𝗡𝗴𝗼𝗷𝗲𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗡𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵 𝗕𝗶𝗮𝘆𝗮 𝗗𝗮𝗽𝘂𝗿
Bahkan saat pertama membina rumah tangga, dia pun menjadi tukang ojek, untuk menambah penghasilannya sebagai guru Bahasa Indonesia di Sekolah Kartini Batam.

Dari mengojek inilah dia bisa membangun tapak rumahnya di Tanjunguma.

Kini setelah waktu berlalu, meski sudah menjabat sebagai Sekda Kota Batam, namun Jefridin tak melupakan teman-temannya masa kecilnya dulu.

“Kite main kombet (perang-perangan) dalam kebun getah (karet), main gasing, main layang-layang. Asyik jike dikenang masa kecil dulu,” ujarnya.

Selamat ulang tahun Pak Sekda, semoga makin sukses dan jaya. ***


Foto: Jefridin bersama Hariyanti, yang kini menjadi istrinya, di masa-masa kuliah dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *