INSPIRASI PAGI: Kerja, Bahagia

Foto ilustrasi: Wali Kota Batam/Kepala Badan Pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR), berjibaku di dapur umum, membantu menyiapkan makanan untuk warga yang membutuhkan. Manusia dengan akalnya dituntun untuk memiliki hidup bermanfaat bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain dan lingkungannya.

PEKERJAAN member kita makna, membentuk nilai-nilai, menentukan status sosial, dan menentukan bagaimana kita menghabiskan sebagian besar waktu.

Bahkan tidak hanya sebatas itu: 95 persen dari sejarah umat manusia, pekerjaan telah memainkan peran yang jauh lebih penting dari semestinya, dan telah memengaruhi manusia secara radikal.

Terbukti, kerja sudah menjadi prinsip organisasional utama dalam masyarakat, mengubah tubuh, lingkungan, pandangan tentang kesetaraan, hingga pengalaman kita soala waktu.

James Suzman dalam bukunya, Work, mengungkapkan bahwa nenek moyang kita, para pemburu-pengumpul, juga para pekerja tangguh. Namun, mereka bekerja jauh lebih sedikit, tetapi menjalani kehidupan jauh lebih bahagia dan berkecukupan.

Sementara kita, di masa kelimpahan materi, justru bekerja lebih banyak daripada masa sebelumnya. Namun kenapa nampaknya selalu jauh dari bahagia?

BACA JUGA:  Pemko & BP Batam Jalin Kolaborasi dalam Penyusunan Standar Harga Satuan 2025

Mungkin karena banyak dari kita yang gagal menggunakan akalnya dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *