Belajar Kesabaran, Keteguhan Hati & Ketangguhan Prinsip dari Marlin Agustina

𝘚𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘹𝘰𝘱𝘩𝘰𝘯𝘦 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘺𝘶-𝘥𝘢𝘺𝘶. 𝘓𝘢𝘨𝘶 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘐𝘯𝘪 𝘚𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘎𝘭𝘦𝘦𝘯 𝘍𝘳𝘦𝘥𝘭𝘺 𝘪𝘬𝘶𝘵 “𝘮𝘦𝘳𝘰𝘮𝘢𝘯𝘵𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯” 𝘴𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢.

SESEKALI terlihat bibir Hj Marlin Agustina Rudi mengikuti lantunan saxophone yang ditiup Ferri, pelajar SMA Negeri 8 Kota Batam.

𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯
𝘪𝘻𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢
𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢
𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢

Saxophone mainan Ferri memang menebar pesona. Termasuk kepada Wakil Gubernur Kepulauan Riau itu. Juga ribuan pelajar yang hadir waktu itu.

Mereka memenuhi lapangan sekolah untuk bertemu dengan Marlin. Yang hadir untuk berbagi cerita, berbagi motivasi.

Rupanya, lirik Sekali Ini Saja menjadi kode bahwa di SMA Negeri 8 menjadi kesempatan terakhir Marlin boleh hadir di SMA SMK Negeri di Kepri.

Sepertinya tak ada kesempatan lagi. Karena mulai keluar larangan untuk berkunjung ke SMA. Larang yang disampaikan, yang membuat kepala sekolah di SLTA Negeri serba salah. Yang mau datang Wakil Gubernur, yang melarang bisa memindahkan mereka kemana pun.

BACA JUGA:  Diskominfo Batam Gelar Rakor agar Layanan Darurat 112 Makin Optimal & Cepat Respon

“Tak sanggup bila harus jujur.” Mungkin lirik lagu Gleen itu terbetik di hati para kepala sekolah, yang negeri.

𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗕𝗲𝗿𝗵𝗲𝗺𝗯𝘂𝘀 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗠𝗮𝗿𝗹𝗶𝗻 𝗱𝗶 𝗗𝗮𝗯𝗼𝘀𝗶𝗻𝗴𝗸𝗲𝗽

Sepekan lalu, saat masih di Dabosingkep, larangan itu sudah terdengar. Tapi Marlin masih disambut dengan meriah. Untuk silaturahmi, berbagi cerita dan motivasi.

Selasa ini, 8 November 2022, Marlin seharusnya ada di Karimun. Tepatnya SMA Negeri 4. Tim pun diminta bersiap untuk bertolak dari Sekupang, Batam pukul 08.00 pagi.

Tapi, malam sebelum keberangkatan, penolakan itu sampai ke Marlin. “Tak boleh masuk ke SMA Negeri. Juga SMK Negeri. Harus izin Gubernur Kepri.”

Kepala Dinas Pendidikan Kepri Andi Agung, tak merespon pertanyaan sejumlah wartawan.

Kepada tim pendamping Marlin, yang sebagian besar hanya pegawai tidak tetap, info keberangkatan batal ke Karimun disampaikan. Tapi mereka tetap stand by di Graha Kepri. Menunggu instruksi agenda berikutnya.

Dalam percakapan di sejumlah tempat, kadang terdengar suara Marlin seperti curhat. Tentang pembelaan kepada perempuan. Tentang perlindungan kepada perempuan. Terutama di panggung politik.
“Kita, kaum perempuan ini, diajak terlibat untuk meraih kemenangan. Dah jadi, kita dibuang. Tak dipedulikan lagi.”

BACA JUGA:  Begini Cara Urus Reklame Legal di Kota Batam agar Tak Dibongkar Tim Penertiban

Kalimat itu mengalir begitu saja. Di antara kalimat-kalimat Marlin yang peduli dengan perempuan. Yang mengajak perempuat aktif dalam berbagai panggung kehidupan. Terlebih politik. Kuota 30 persen yang ditetapkan pemerintah, misalnya, harus direbut.

𝗦𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗮𝗱𝗮𝗶

Marlin memang berjalan dalam kesendirian. Terutama dalam kegiatannya sebagai Wakil Gubernur. Tiap agenda acara yang beredar, begitu terlihat “beda perlakuan”.

Tiap kegiatan Wagub Marlin, selalu nyaris tanpa pendamping. Hanya petugas-petugas yang memprotokoli kegiatannya, juga tim yang mendokumentasikan. Publikasi Marlin dari panggung Pemprov Kepri pun sangat minim.

Belum lagi dalam kesendiriannya ia masih diterpa badai fitnah, hoax dan ujaran kebencian. Tujuannya untuk merusak reputasi dan kredibilitasnya di mata publik. Kejam memang.

Namun, Marlin bukanlah pribadi cengeng. Keteguhan sikapnya membuktikan bahwa kaum wanita itu bukan mahluk lemah yang takluk pada dogma patriarki. Big No!

BACA JUGA:  Penyebaran Covid-19 di Batam Melambat, Gubernur Apresiasi Kerja Keras HMR & Tim

Dengan kecerdasan dan kreativitasnya, Marlin mengubah tragedi menjadi motivasi. Ia ciptakan panggung sendiri di media sosial. Baik di instagram maupun facebook. Jangkauan dari dua media itu begitu besar.

Dari sinilah masyarakat tahu bahwa Marlin punya aktivitas, yang sangat padat. Dengan berbagai amanah yang diembannya. Terlebih sebagai istri H Muhammad Rudi, Wali Kota Batam yang juga Kepala Badan Pengusahaan Batam.

Marlin tampak seru-seruan dengan pelajar di beberapa SMA Negeri. Mungkin Marlin tak tahu, ketika kehebohan itu menyebar melalui sejumlah media sosial dan mainstream, larangan untuk beracara di sekolah negeri semakin kuat.

***

Well… Musik dari saxophone Ferri semakin enak didengar. Terlebih Marlin memang mengikuti lagu-lagu itu

“Bersama mu, yang kumau. Namun kenyataannya tak sejalan.”

Kini, jalan kebersamaan itu makin panas. Selalu tak ada ruang untuk Marlin. (ski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *