INSPIRASI PAGI: Badut di Istana

BELAKANGAN ada pepatah Turki yang selalu mondar-mandir di media sosial. Bunyinya, “Ketika seorang badut pindah ke istana, dia tidak menjadi raja. Istana itu menjadi sirkus.”

Banyak yang menafsirkan proverb ini sebagai kritik terhadap individu dalam kekuasaan, yang kurang serius atau kompeten mengelola pemerintahan.

Terlepas dari apapun konteksnya, sebenarnya para badut istana ini sudah ada sedari zaman peradaban kuno, seperti di Yunani, Romawi, India, China, dan Arab.

Bahkan menurut Dr Maman Lesmana, akademisi Universitas Indonesia sekaligus pengkaji humor, para badut ini tak cuma berperan sebagai penghibur raja, tetapi juga aspirator rakyat jelata.

Mereka pun acap dianggap orang hebat, karena termasuk orang langka dari kelas proletar yang omongannya tentang realita miris di luar kastil bisa didengar oleh sang pemangku kekuasaan.

Dalam ranah politik kontemporer dan panggung demokrasi, mengutip Wagg (1998) dalam “Because I Tell a Joke or Two: Comedy, Politics and Social Difference”, peran komedian – yang merupakan evolusi dari badut istana – makin vital.

Pasalnya, ia mengantongi legitimasi untuk berekspresi sebebas dan sejujur mungkin. Komedian kini dipersilakan menghakimi presiden berikut praktik pemerintahannya dan mendapat apresiasi masyarakat pula.

Lewat lelucon-leluconnya, komedian pun bisa lebih dekat dengan rakyat daripada politisi-politisi pengusung populisme. Dalam kata lain, “badut” bisa lebih populis daripada para politisi.

Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
Referensi:
> Geotimes
> Institut Humor Indonesia Kini
> Wagg, S. (1988). Because I Tell a Joke or Two: Comedy, Politics and Social Difference. London & New York: Routledge

BACA JUGA:  Dorong Naik Kelas, Pemko Latih UMKM Strategi Pemasaran hingga Teknologi Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *