Dari Bangku Sekolah Menuju Pentas Dunia: Kisah Inspiratif Persahabatan Pemuda Asal Pulau Bawean

BAWEAN, KataBatam – Jarak boleh membentang, namun ikatan persahabatan sejati tak akan pernah luntur oleh waktu dan ruang. Sebuah kisah hangat sarat inspirasi datang dari sekumpulan pemuda yang tumbuh bersama di Dusun Komalasa, Desa Komalasa, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Berawal dari sahabat sebangku di sekolah dasar, kini generasi sekumpulan sahabat ini telah siap menjalani hidup dengan memberikan manfaat besar bagi sesama di berbagai belahan dunia.

Perjalanan ini mengisahkan masa kecil yang penuh warna saat mereka belajar mengeja huruf di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI)/Sekolah Dasar yang sama. Terselip sebuah kenangan menggelitik yang tak terlupakan bagi mereka, yakni ketika salah seorang kawan dengan polosnya menyebut presiden mereka adalah “Bapak Supla”—sebuah kelucuan masa lalu yang bahkan berujung pada tinggal kelas, namun kini menjadi memori paling indah dan berharga.

Waktu berlalu, roda nasib membawa mereka mengepakkan sayap ke berbagai penjuru. Fathur Rozi atau yang akrab dipanggil Fathur, salah satu dari sekumpulan sahabat tersebut, melangkah jauh usai menyelesaikan studi merantaunya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia kini memilih menetap dan sukses mengembangkan bisnisnya di Kota Batam.

Tak kalah inspiratif, Leli, yang juga bagian dari lingkaran persahabatan ini, turut menorehkan bakti yang luar biasa di negeri jiran. Leli mengabdikan dirinya sebagai seorang ustazah di Kampung Pandan, Malaysia. Dari sentuhan tangan dingin Leli, ribuan anak-anak Melayu di sana kini bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, menjadi lentera ilmu yang melintasi batas negara.

Senada dengan kisah sukses lainnya, Fala juga mengukir rekam jejak internasional yang tangguh. Ia berkarier sebagai kontraktor bangunan dengan proyek yang membentang dari Malaysia hingga ke Vietnam. Menariknya, setelah kembali ke tanah kelahiran di Pulau Bawean, Fala dengan bersahaja melanjutkan aktivitasnya sebagai nelayan. Perjalanan hidup ini membuktikan betapa dinamis dan adaptifnya mentalitas pemuda asal Bawean dalam menghadapi ombak kehidupan.

Momentum haru terjadi saat Fathur berpamitan kepada para sahabat karibnya untuk kembali ke Batam guna melanjutkan geliat bisnisnya. Di hadapan teman-teman masa kecilnya, ia menitipkan pesan mendalam yang menyentuh hati.

“Bule pamit ke Batam dulu, togellan (sahabat). Titip doa, titip silaturahmi, titip kenangan kita dari coret-coret meja sampai sekarang,” ujar Fathur dengan penuh kehangatan.

Bagi mereka, perpisahan geografis ini bukanlah akhir, melainkan babak baru dari sebuah cerita panjang. Jarak hanya memisahkan raga, tetapi sama sekali tidak memisahkan rasa. Semangat kebersamaan angkatan mereka akan tetap menyatu dan kokoh.

Kisah ini menjadi refleksi indah bahwa dari pelosok dusun di Pulau Bawean, lahir generasi-generasi tangguh dan serba bisa yang siap menaklukkan dunia, tanpa pernah melupakan akar rumput dan senantiasa membawa manfaat bagi masyarakat luas. Sampai jumpa di ruang reuni mendatang, dengan cerita kesuksesan yang jauh lebih panjang. (Cung)

BACA JUGA:  Liburan Spesial Akhir Tahun, Penuh Sensasi & Berjuta Atraksi di Nongsa Resort Batam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *