SEBUAH kata hikmah berbunyi, “Kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian”. Sederhananya, setiap pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Karena pemilih akan mencerminkan apa yang dipilih.
Otak manusia cenderung suka zona nyaman, dan cenderung bergabung dengan yang sama atau cocok. Misal, saat memakai baju atau barang, bahkan makanan, orang akan cenderung memilih yang nyaman, misal ikut-ikutan mode, karakter atau lidahnya.
Dalam konteks pemilihan umum, karakter orang seperti ini disebut pemilih emosional. Yang menentukan pilihan berdasarkan suka atau tidak suka.
Dalam demokrasi, memilih calon karena hal-hal yang trivial (remeh) itu sah. Meski demikian, tak ada salahnya kita mengubah pola menjadi pemilih rasional. Sehingga pemimpin yang dihasilkan akan berkualitas.
Caranya, lihat etikabilitas-nya. Hal ini berkaitan dengan etika, moral dan kejujuran. Misal, apakah yang akan kita pilih nanti punya rekam jejak suka ingkar janji, atau tak punya prestasinya apa-apa?!
Cara ke-2, bandingkan gagasan atau program besar dari setiap pasangan calon. Mana yang terbukti membangun, atau yang tujuannya hanya kekuasaan atau dinasti semata.
Sebab, mengelola sumber daya yang besar dan kemajemukan daerah ini memerlukan orang yang memiliki integritas dalam bekerja dan bisa berpikir komprehensif. Bukan tukang omon-omon.
Jika hal ini dilakukan, maka kita akan memiliki pemimpin dengan otak yang baik. Akalnya pun sehat. Bukan yang suka memoles diri dengan hal remeh dan receh, suka jelek-jelekan, tapi kerja tak becus bin mangkrak. Yuk berubah, sudah saatnya kita maju!
Bagaimana menurut Anda? (ski)
IN2PIRASI PAGI: Emosional & Rasional






