KETIKA Al Quds (Yerusalem) berhasil ditaklukkan pasukan Islam, Khalifah Umar bin Khattab, langsung berangkat ke sana dengan menaiki unta.
Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan, membuat hati Amirul Mukminin tidak tega melihat pembantunya berjalan kaki. Akhirnya ia menyuruh sang pelayan naik unta. Gantian, dirinya yang berjalan sambil menuntun unta itu.
Kegemparan terjadi, ketika hampir sampai di gerbang Al Quds, tibalah giliran pelayan Umar bin Khattab, duduk di atas punggung unta itu. Sampai-sampai ada yang mengira bahwa pelayan tersebut-lah sang khalifah.
Sebenarnya ada prajurit Islam yang menyambut Umar bernama Ubaidah Bin Al-Jarrah, sempat mengingatkan, “Wahai Amirul Mu’minin ! Engkau akan disambut oleh tentara dan pembesar Syam sedangkan engkau berkeadaan (penampilan) begini? ” tanya Abu Ubaidah.
Khalifah Umar menjawab, “Sejak kapan dirimu menjadikan dunia ini untuk memuliakan dirimu, sejak kapan dunia ini engkau jadikan ukuran kemuliaan?!”
“Ketahuilah Ubai Bin Jarrah, sesungguhnya kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka tidaklah kami akan mencari kemuliaan dengan selain Islam”, ucap Umar RA tegas.
Begitulah contoh akhlak seorang pemimpin besar Islam. Ia tak perlu mengejar validasi, dan sanjung puji dari orang lain, apalagi gila hormat. Harta dan jabatan, hanyalah wasilah untuk meraih keselamatan akhirat. Adapun kemuliaan, hanya datang dari Allah SWT.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
—-
RENDAH HATI: Wali Kota Batam H Amsakar Achmad, berbaur bersama jemaah saat Salat Idulfitri 2025 di Masjid Agung Batam. Kehormatan seorang pemimpin terletak pada komitmen perjuangannya dalam menyejahterakan masyarakat.
Referensi:
> Republika
> Buku; Cahaya Abadi Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia, karya Fethullah Gulen.
INSPIRASI JUMAT: Kemuliaan Khalifah Umar






