INSPIRASI JUMAT: Wudu & Jalan Pulang

DI JUMAT nan mulia ini, mari kita resapi pelan-pelan tulisan dalam akun Instagram Adi Pratama Larisindo ini. Khususnya bagi kita yang selalu merasa wudunya sudah baik, sudah sempurna. Berikut bunyinya:

Aku pernah wudu ribuan kali, tapi ada satu momen yang bikin aku sadar wudu itu bukan cuma air, dan sejak itu caraku wudu berubah.

Ada satu kisah yang bikin aku berhenti di tengah wudu. Serius! Sejak hari itu aku gak bisa wudu seperti dulu lagi.

Waktu itu aku wudu kayak biasa, cepat, buru-buru, yang penting kelar. Itu pula yang aku lakukan: basuh, gosok, bilas, udah. Basuh, gosok, bilas, selesai.

Sampai tiba-tiba aku kepikiran sesuatu, kayak ada yang nahan aku di tengah aliran air. Dan kisah lama itu muncul lagi, kisah yang bikin aku mikir, ini wudu atau cuma cuci tangan?

Kisah itu tentang Saidina Husain Ibnu Ali Radiyallahuanhu, cucu Rasulullah Muhammad SAW.

Suatu hari beliau berdiri untuk wudu, tapi tangannya gemetar, wajahnya pucat. Air yang biasanya mengalir biasa aja, kali itu menetes pelan dari tangan yang bergetar.

Orang-orang heran, mereka bertanya, “kenapa kamu seperti itu saat wudu?” Beliau menjawab pelan,” kalian gak tau aku mau berdiri di hadapan siapa?!”

Kalimat itu nusuk banget, karena aku langsung ingat berapa kali aku wudu, cuma biar cepat selesai? Berapa kali aku wudu, sambil mikir kerjaan, chat, deadline? Berapa kali aku wudu, tapi hati aku masih di luar?

Padahal buat Husain radiyallahuanhu, bahkan membasuh tangan itu ibadah yang berat. Bukan karena susah, tapi karena beliau sadar.

Ini bukan rutinitas, ini bukan sekadar bersih-bersih. Ini persiapan buat berdiri di hadapan Raja dari segala raja.

Dan di situ aku paham, wudu itu bukan cuma bersihin badan. Bukan cuma bersihin badan! Tapi juga bersihin jiwa. Kayak minta maaf yang gak banyak kata. Kayak pulang pelan-pelan.

Saat kita basuh tangan, seolah kita cuci semua yang pernah kita sentuh, yang kita sesali.

Saat kita berkumur, seolah kita bersihin kata-kata yang pengen kita tarik kembali.

Saat basuh wajah, seolah kita tenangkan mata dari yang pernah dilihat dan hati dari yang pernah disimpan.

Saat usap kaki, seolah kita siapin langkah buat lurus lagi.

Jadi kalau nanti kamu wudu lagi, kalau nanti aku wudu lagi, mari sama-sama pelanin, rasain, biar bukan cuma air yang mengalir, tapi hati ikut juga balik.

Biar hatimu bisa bilang: Ya Allah, aku bukan cuma membasuh, aku sedang pulang kepadamu. Aku sedang pulang kepadamu.

Bagaimana menurut Anda? (riza)
____
FOTO ilustrasi: AI generated Wali Kota Batam H Amsakar Achmad. Gerak geriknya selalu cerminkan kerendahan hati.

BACA JUGA:  Kisah Pak Am di Tanah Suci: Romantisme, Kursi Roda, & Ruang Maaf pada Istri Tercinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *